“Who is an unfortunate person? One who looks at other people and sees only their flaws.” Haemin Sunim
Pesawat mengudara dari Indonesia beberapa jam lalu dan kini melayang tenang di atas Laut Cina Selatan. Di luar jendela, malam mulai pudar, langit merekah perlahan seperti mata yang baru terbangun dari mimpi panjang.
Awan-awan tipis terbentang seperti tirai sutra, dan cahaya dari timur mulai mengiris gelap dengan kelembutan yang nyaris tak terasa. Di dalam cabin, lampu-lampu redup menyelimuti deretan kursi. Suara mesin pesawat bergema halus, menyatu dengan keheningan malam.
Namun ketenangan itu perlahan retak. Dari sisi kiri saya, suara seorang Wanita terdengar pelan namun tajam. Usianya mungkin sekitar lima puluhan. Ia duduk gelisah. Tak tertidur. Justru terus mengamati dan berkomentar, seolah tak ada yang luput dari penilaiannya.
“Anak-anak itu tak tahu aturan,” gumamnya. “Pramugarinya seperti robot. Dingin sekali pelayanannya.” “Daging ini keras sekali, seperti mengunyah batu.” Mulutnya tak henti mencibir, dan desah kesal mengiringi setiap jeda.
Keluhan demi keluhan mengalir, ringan tapi menyentuh dengan cara yang tak nyaman. Saya tidak menanggapi, hanya menunduk, lalu kembali menatap ke luar jendela. Langit sudah berubah menjadi canvas biru pucat.
Dari bangku depan, beberapa penumpang menoleh, bukan hanya karena suara yang menembus senyap, tapi juga karena isi kata-katanya yang terasa getir. Tatapan-tatapan itu membuat saya sadar, ternyata bukan saya saja yang merasa terganggu.
Wanita di sebelah saya, mungkin sudah terlalu lama melihat dunia hanya dari sisi luka sampai lupa bahwa setiap sorotnya menembus bukan hanya kekurangan orang lain, tapi juga bayangannya sendiri.
“Some speak not to be heard, but to quiet the noise they carry inside.”
Part 1.

