“Being human takes practice and hard work. Being inhuman,unfortunately comes all too easy.” Simon Sinek
Subway di Tokyo seperti memiliki denyutnya sendiri, bergerak lebih cepat dari ritme kehidupan di atasnya. Di jalur Chikatetsu Chiyoda, saya berdiri di tengah arus keramaian. Garis-garis pada peta di tangan coba saya uraikan namun terlihat lebih seperti seni abstract daripada petunjuk jalan.
Meski pernah tinggal di London, navigasi di sana terasa jauh lebih sederhana, semua tanda jelas terbaca, tanpa kanji yang terlihat seperti puzzle. Di sini, setiap langkah terasa asing, kompleks, dan membingungkan.
Beberapa kali langkah terhenti, hanya untuk menatap aliran manusia yang melaju tanpa ragu. Ada tujuan di langkah mereka, sementara saya berdiri seperti satu-satunya yang tersesat, terperangkap dalam kebingungan.
Di tengah kebingungan itu, seorang wanita menghampiri. Rambut hitamnya lurus dan mengkilap serta matanya bening seperti pagi yang cerah. Tak ada kata yang terucap, namun caranya memandang lembut, penuh pengertian, seolah mengatakan bahwa dia tahu betapa tersesatnya saya.
Dia mendekat, dengan gerakan tangan sederhana yang seolah menanyakan kemana tujuan. Saya merespond dengan menunjukkan tulisan Stasiun Kokkai-gijidomae serta photo National Diet Library atau Japanese parliament library.
Meski dia tidak berbicara bahasa Inggris dan saya tidak fasih berbahasa Jepang, ada bahasa lain yang bekerja di antara kami, sebuah pemahaman tanpa kata yang melampaui batas bahasa.
Moment yang sederhana, tapi sungguh berbekas di hati. Di dunia yang bergerak cepat, di mana begitu mudah untuk mengabaikan, dia memilih untuk peduli. Pilihannya menjadi manusia, di tengah ketergesaan, adalah cahaya kecil yang memecah kabut kebingungan saya.
“We don’t always need to speak the same language to understand each other. We just need to share the same humanity.”
Part 1.

