“There is really only one way to overcome comparison and it’s having the full picture of the person that you compare yourself to.You’ve got to know what’s happening behind their perfect instagram post.” Jay Shetty
Langkah saya masih tertahan di pintu bus karena suara mereka belum juga hilang dari kepala. Tadi salah satu dari mereka bercerita tentang anak perempuannya yang kini duduk di bangku SMA di kampung.
“Anak saya bilang dia iri sama temannya, karena bisa pulang dan makan bersama ibunya setiap malam. Tapi saya cuma bisa bilang, nanti ya, tunggu Mama bisa cuti. Padahal saya sendiri sudah tak tahu kapan.”
Mereka adalah ibu-ibu yang memilih jauh agar anaknya bisa dekat dengan kesempatan. Yang menyisipkan doa dan lelah di balik setiap kiriman uang bulanan agar anaknya bisa sekolah tanpa merasa sedang berutang pada luka.
Terkadang mudah sekali merasa kecil saat melihat hidup orang lain dari kejauhan. Kita terpukau pada hasil, pada senyuman yang ditampilkan, pada unggahan yang tampak utuh, tanpa tahu apa yang tersembunyi di luar bingkai.
Kita tak pernah benar-benar tahu berapa banyak air mata yang mereka telan sebelum tidur. Berapa kali mereka menahan rindu agar tidak terdengar di ujung telepon.
Mereka tidak pernah menunjukkan sisi remuknya. Padahal setiap malam, setelah menyikat kamar mandi orang dan merapikan dapur majikan, mereka terpaksa tidur di mana pun, termasuk di lantai dapur yang dingin dan sunyi.
Saya pun turun dari bus. Tapi langkah itu terasa lebih berat dari biasanya. Seolah ada yang ikut saya bawa turun pagi ini yaitu kesadaran bahwa apa yang tampak tenang di permukaan sering kali menyimpan letih yang tak terlihat.
“Do you know how many times they’ve cried themselves to sleep this week ? All of sudden when you actually get the full picture on someone’s life, you now don’t compare yourself to them because you realize no one’s life is perfect. They’re just better at cropping out the pain.” Jay Shetty
Part 36.

