“A simple smile. That is the start of opening your heart and being compassionate to others.” Dalai Lama
Langkah saya dan Chris kembali ke villa kayu sederhana yang menjadi rumah sementara terasa ringan, seolah udara pagi yang masih menyimpan sisa dingin laut ikut mengantar.
Senyum hangat ibu pemilik villa menyambut di beranda, wajahnya bercahaya seperti matahari yang baru terbit. Dengan nada penuh semangat ia memberitahu bahwa sarapan baru selesai dibuat dan siap dihidangkan untuk kami.
Dua thermos besar berdiri berdampingan, satu berisi coffee hitam pekat dan satu lagi tea hangat beraroma lembut. Dari dapur kecilnya, wangi panggangan bercampur rempah menyeruak, membuat kami terhenti sejenak sebelum menyentuh cangkir.
Saya menuang tea perlahan, membiarkan hangatnya mengalir dari tangan hingga ke hati. Chris memilih coffee dengan aroma pekat yang ditemani kicau burung dan riak pagi yang baru mulai.
Di atas meja kayu itu, piring-piring sudah tertata, pisang goreng dengan kulitnya renyah kecokelatan dan singkong rebus yang lembut disajikan bersama parutan kelapa muda, dan sedikit sambal untuk menemani pisang goreng.
Tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat pagi kami terasa lengkap. Di meja itu, setiap hidangan bukan hanya sekadar makanan, melainkan tanda perhatian kecil yang begitu tulus hingga terasa berlimpah.
Sementara riak ombak terdengar jauh di sana, di meja kayu ini hadir riak perhatian dari tangan ibu pemilik villa. Perhatian sederhana yang diam-diam memberi arti ditemani senyumnya yang lembut menyertai pagi.
“Sometimes your joy is the source of your smile, but sometimes your smile can be the source of your joy.” Thích Nhất Hạnh
Part 16.

