0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“You won’t always feel brave. But every time you keep going anyway, that’s courage and it counts.”

====

Saya melanjutkan langkah, dan di bawah sepatu, lantai jembatan mulai terasa hangat, terkena sinar mentari yang merayap perlahan.

 

Bayangan saya memanjang, menyentuh kaki pejalan lain yang berjalan berlawanan arah, lalu lenyap di sela-sela cahaya. Namun dalam kepala, lipatan sapu tangan itu belum benar-benar pergi.

 

Ada sesuatu dari cara si penjual merapikan dagangannya yang membekas. Gerakannya nyaris seperti sebuah ritual yang sudah dihafalnya di luar kepala. Bukan sekadar merapikan barang, tapi seolah sedang menata kembali sesuatu yang lebih dalam.

 

Dari satu sapu tangan yang dilipat ulang ia tata kembali setelah ditolak, saya melihat potongan kehidupan yang serupa dengan wanita di bus tadi. Mereka yang terus berjalan bukan karena merasa kuat, tapi karena tak punya pilihan lain.

 

Wajah si penjual terlihat lebih sering memuat lelah. Tapi setiap hari ia kembali ke meja itu, kembali menjelaskan, kembali tersenyum, meski tak selalu didengar bahkan kadang harus berhenti di tengah kalimat.

 

Mungkin memang begitu bentuk keberanian dalam kehidupan sehari-hari. Bukan yang menggema dan penuh sorak, tapi ketika seseorang tetap berdiri walau hatinya ingin rebah.

 

Kita tak selalu melangkah dengan dada tegap. Tapi justru di situlah letak kekuatannya, saat seseorang tetap berjalan meski gemetar. Keberanian sering kali berdiam di balik langkah-langkah kecil yang memilih untuk tak berhenti.

“Courage doesn’t always roar. Sometimes courage is the quiet voice at the end of the day saying, ‘I will try again tomorrow.’” Mary Anne Radmacher

Part 740.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!