“Real love knows when to shine, and when to hold the light for someone else to be seen.”
Chloe masih menatap bougenville itu lama, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak tertulis. Lalu, dengan suara pelan hampir seperti gumaman, ia berkata, “Mama, kalau tidak ada daun warna-warni itu, bunganya mungkin tidak akan terlihat sama sekali?”
Saya mengangguk. Chloe memutar kelopak di tangannya sekali lagi, lalu meletakkannya perlahan di pangkuannya, seolah sedang mengembalikan rahasia kecil ke tempat asalnya.
Ia bersandar pada tembok pagar, matanya mengamati satu per satu bractea yang bergoyang ringan. Saya berdiri di sampingnya, dan untuk sesaat, kami hanya diam bersama angin.
Tak ada yang perlu dijelaskan lebih jauh, sebab pagi itu sudah mengucapkan cukup banyak hal dalam bahasa warna dan gerak. Beberapa anak lewat di seberang jalan, suara tawa mereka terpantul di dinding rumah tua, lalu lenyap bersama deru motor yang berlalu perlahan.
Saya berkata pelan, hampir seperti menyusun simpulan dari pagi itu, “Chloe sayang, kadang, yang membuat sesuatu terlihat indah bukan karena ia bersinar paling terang, tapi karena ada yang rela berdiri tenang di belakangnya.”
Chloe menoleh dengan sinar matanya yang teduh. “Like when Sophie was dancing at her school show. She said she wasn’t so scared because I kept smiling at her. Is it like that, Mama?”
Saya mengangguk pelan dan menggenggam tangannya lembut. Di tengah pelukan warna-warni bougenville yang terus menari ditiup angin, pagi itu meninggalkan satu pelajaran lagi yaitu kasih bukan soal siapa yang tampak, tapi siapa yang tetap tinggal.
“Love is the quiet strength that helps others shine in their own light.”
Part 7.

