“You have to embrace the obstacles in your life, as they are part of your journey.”
Langit kelabu masih menggelayut, menyimpan sisa-sisa hujan yang baru saja reda. Udara terasa lebih segar, dengan aroma tanah basah yang menyeruak dari trotoar yang penuh genangan.
Pepohonan besar di sepanjang jalan meneteskan air, menciptakan irama tenang di antara suara langkah pejalan kaki yang berlalu. Motor kami melaju pelan, melewati trotoar sempit yang penuh guncangan.
Saya duduk diam, mencoba menyeimbangkan tubuh di atas jok yang berguncang. Dedaunan di atas kami bergerak pelan tertiup angin, seolah mengisyaratkan bahwa badai telah berlalu.
Tepat di depan Saigon Square, dia menghentikan motor. Kami terdiam sejenak, hanya terdengar tetesan air dan gemerisik angin. Dia menoleh ke belakang, senyum tulus terbit di wajahnya. ‘Okay?’ katanya pelan, lalu saya bersiap turun.
Namun, sebelum mesin motor kembali meraung, dia bergumam pelan menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah, lalu merentangkan tangan lurus ke depan, ‘Okay, No. Okay, No.’ Seolah ingin menunjukkan bahwa jalanan akan berganti-ganti, bumpy dan mulus.
Jalanan yang tak rata, hujan yang datang tiba-tiba, bahkan keputusan untuk menaiki trotoar yang penuh risiko, semuanya terasa seperti metafora kehidupan. Hidup memang tak pernah sepenuhnya mulus. Ada tikungan tajam, guncangan, bahkan jalan yang bumpy.
Hujan yang tadinya terasa menyulitkan adalah bagian dari perjalanan. Siang itu, saya menyadari bahwa setiap liku kehidupan memiliki makna, dan kita hanya perlu lebih membuka mata hati untuk memahaminya.
“Difficulties in life are intended to make us better, not bitter.” – Dan Reeves
Part 4,

