“The world is full of good people. If you can’t find one, be one.”
Kereta tram berhenti perlahan, dan ketika pintu terbuka, sang ibu muda mendorong stroller bayinya ke luar, tapi rodanya tersendat. Ia mencoba sekali lagi, sedikit lebih keras, namun tetap tak bergerak. Wajahnya mulai cemas, sementara matanya tak lepas dari bayi yang tertidur di dalamnya.
Saya dan Michael saling berpandangan, lalu berdiri tanpa kata. Kami melangkah pelan mendekatinya. Michael bertanya lembut, “Kann ich Ihnen helfen?” Ia tak menjawab dengan kata, hanya anggukan kecil dan sorot mata lega.
Saya memegang sisi stroller, dan Michael dengan cekatan mengangkat bagian depannya agar bisa melewati celah pintu tram. Begitu berhasil diturunkan ke trotoar, kami melihat bayi itu masih tertidur, wajahnya sungguh menggemaskan di balik selimut lembut.
Namun ketika stroller didorong ke depan, rodanya kembali macet. Michael berjongkok dan mulai memeriksa satu per satu, menggerakkan roda perlahan, maju dan mundur. Saya ikut menunduk, memperhatikan dari sisi lain.
Tak butuh waktu lama sebelum kami menemukan penyebabnya, ternyata ujung selimut menjuntai dan terjepit di roda belakang. Saya menariknya perlahan agar tidak membangunkan si kecil. Michael menahan kereta agar tak bergerak, sementara si ibu mulai tenang meski belum banyak bicara.
Begitu selimut terlepas, roda kembali bergerak mulus. Si ibu menghela napas lega. Ia menatap kami sejenak, lalu tersenyum tipis. “Danke schön,” ucapnya lirih, hampir seperti bisikan yang hangat.
Kami mengangguk dan saya menjawab pelan, “Gern geschehen.” Tak perlu banyak kata karena yang kami lakukan bukan hal besar, tapi cukup untuk membuat pagi itu terasa sedikit lebih ringan bagi seseorang.
“Be the reason of someone believes in the goodness of people.”
Part 15.

