0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Motherhood is the quiet art of staying, even when the soul aches for pause.”

 

Saya sempat menoleh sekali lagi sebelum benar-benar melangkah pergi. Perempuan itu masih di sana, membenahi lipatan terakhir dari jualannya, lalu duduk diam sejenak, memandang ke ujung jembatan yang perlahan mulai ramai.

 

Ada sesuatu pada caranya diam yang terasa kokoh. Seperti akar yang tertanam dalam dan tak mudah digeser angin. Wajahnya mengingatkan saya pada sekelompok perempuan di bus tadi pagi.

 

Sebagian tampak letih meski bibir mereka tetap bercerita. Sebagian lainnya tersenyum, namun terkadang menatap keluar jendela, jauh, mungkin ke arah rumah yang belum tentu bisa mereka datangi dalam waktu dekat.

 

Mereka serupa. Perempuan-perempuan yang memanggul banyak hal tanpa perlu meninggikan suara. Yang tetap hadir di hari-hari yang berat, bukan karena tak lelah, tapi karena ada anak yang menggantungkan harapan pada napas mereka.

 

Hari Ibu tak hanya singgah setahun sekali. Ia datang setiap hari dalam senyum tipis yang diberikan bukan karena semuanya baik-baik saja, tapi karena masih ingin bertahan demi anak-anak mereka.

 

Saya pikir, mungkin tidak semua perempuan menyebut dirinya kuat. Tapi banyak dari mereka justru menjadi tempat paling pertama bagi dunia untuk kembali belajar tentang keteguhan.

 

Untuk semua ibu, di mana pun mereka berada, termasuk yang berdagang sapu tangan di ujung jembatan dan yang duduk di kursi bus pagi tadi, kasih merekalah yang diam-diam membuat dunia berputar dengan lebih bermakna.

 

“Motherhood is not a day on the calendar. It’s the heartbeat behind every small survival.”

Part 43.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!