“Our patience will achieve more than our force.” Edmund Burke
Matahari kian meninggi dan sinarnya mulai menyengat, membuat bayangan di beranda kayu bergeser perlahan. Mereka akhirnya beranjak dan pindah ke meja kami, membawa serta buku catatan yang sudah penuh coretan.
Ombak di bawah tebing terdengar berulang menghantam karang, lalu surut meninggalkan bunyi yang menenangkan. Setelah meneguk sebotol air dingin, sang instructor asal Perancis itu kembali berbicara.
Suaranya lebih lembut, seakan ingin memastikan setiap kalimat betul-betul terserap. “Diving is not just about how you get into the water and how you come back up. It is also about staying calm when visibility drops. If you panic, it only gets harder to move.”
Saya menoleh sejenak dan merasakan angin laut yang hangat menyapu kulit, lalu tersenyum. “I guess it’s not just under the sea. Sometimes when life feels murky, the more we panic, the harder it is to see the way out.”
Instructor itu tertawa kecil, tatapannya mengiyakan . “That’s true, the sea has its own way of teaching patience. If you stay still for a while, the water usually clears on its own.”
Chris hanya mengangguk pelan sambil menatap laut yang berkilau disinari matahari siang. Saya membiarkan kata-kata itu mengendap, seperti riak ombak yang terus mengulang nadanya.
Sering kali kita tidak perlu terburu-buru. Yang dibutuhkan hanyalah ruang agar keadaan menenangkan dirinya sendiri. Sama seperti laut yang tahu cara memulihkan kejernihan, hidup pun butuh kesabaran untuk kembali terang.
“The sea teaches that patience itself is a way forward.”
Part 24.

