“Moving forward sometimes means meeting the old version of ourselves with softer eyes”
Sophie mengangguk pelan, lalu terdiam. Matanya kembali tertuju ke luar jendela, seolah mencari jawaban di antara deretan pohon yang meliuk lembut diterpa angin pagi.
Keheningan pun mengalir di antara kami, seperti ruang teduh yang tak butuh kata-kata. Saya tahu, dalam diamnya, ada sesuatu yang perlahan tumbuh yaitu sebuah pemahaman yang belum selesai, namun sudah mulai terasa bentuknya.
Shuttle bus tersebut terus melaju di bawah sinar mentari yang kian meninggi. Setiap tikungan dan setiap jalan yang kami lewati, terasa seperti pelajaran sunyi yang disampaikan oleh waktu.
Saya pun merenung ternyata dalam perjalanan hidup, sering kali kita tidak menyadari bahwa kebingungan, kesalahan, bahkan keterlambatan yang dulu kita anggap penghalang, ternyata adalah bagian dari harmony yang diam-diam membentuk kita.
Moment yang dulu terasa seperti kelokan tak perlu, kini tampak seperti petunjuk halus yang justru mengantar ke arah yang lebih lapang. Ingatan yang dulu tampak kacau dan tak beraturan, kini menjadi benang yang terjalin rapi dalam langkah yang kita tapaki.
Dalam hening itu, saya pun merasakan hal yang sama seperti Sophie, bahwa ada ruang di dalam diri yang mengundang kita untuk berhenti sejenak dan melihat ulang, bukan apa yang telah kita capai, tapi bagaimana kita sampai ke titik ini, dengan seluruh kebingungan yang pernah kita genggam.
Saya menoleh ke arah Sophie dan ia menoleh balik dengan senyum yang perlahan merekah. Lalu ia kembali menatap jendela, membiarkan angin pagi menyentuh wajahnya, seolah mengizinkan kenangan lama kembali pulang, satu per satu, ke tempat mereka semula berasal.
“We think we are just moving forward, but sometimes we’re also circling back to parts of us we once forgot.”
Part 30.

