“Act as if even the smallest gesture can make a difference. It does.”
Machine pesawat mulai menderu pelan, seperti napas panjang yang ditahan lalu dilepas perlahan.
Lampu cabin diredupkan satu per satu, menyisakan cahaya kuning lembut yang membuat wajah-wajah penumpang disekitar terlihat lebih tenang atau mungkin hanya terlihat lelah.
Seorang pramugari berjalan melewati lorong, mendorong trolley dengan suara roda yang teredam. Di baris depan, seseorang berbisik meminta air.
Di belakang saya, ada yang tertawa kecil lalu segera menurunkan volumenya, seolah ruang ini meminta semua orang untuk saling menjaga agar tidak saling mengganggu.
Saya mengambil satu lembar tissue lagi dan menyimpan sisanya kembali ke tas lalu menyandarkan kepala sebentar. Dengung mesin dan cahaya cabin yang redup perlahan merapikan pikiran saya yang sejak tadi berisik.
Pesawat terus melaju dan orang orang kembali tenggelam dalam urusan masing-masing. Saya menatap lurus ke depan, merasa perjalanan ini tetap bergerak, meski beberapa hal kecil memilih tinggal diam di kepala.
Di tengah semua itu, saya menyadari bahwa ada bantuan yang tidak mengubah arah hidup, hanya membuat perjalanan terasa sedikit lebih ringan and guess what, ternyata itu sudah lebih dari cukup.
“A simple act can ease more than the largest plans ever could.”
Part 20.

