0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Not all warmth needs translation, some speaks straight to the heart.”

 

Ditemani senandung saya yang mengalun naik turun, mengikuti hembusan angin pagi yang lembut, lagu itu menyapu udara di halte yang lengang. Sinar matahari perlahan merangkak naik, hangatnya menyentuh bangku besi dan menembus sela-sela dedaunan.

 

Aroma logam hangat dari bangku yang terkena mentari perlahan bercampur dengan wangi coffee dari cangkir kertas seorang penumpang yang duduk tak jauh dari tempat kami berdiri.

 

Tram belum juga lewat. Rel di depan kami kembali diam, hanya sesekali bergetar ringan tersapu angin. Suara kota tertahan di kejauhan, terlalu pagi untuk klakson, terlalu dini untuk langkah-langkah tergesa, apalagi di hari Sabtu yang lekat dengan ritme santai.

 

Si bayi yang mungil kini terpejam. Belum lelap, tapi sudah tenang. Jari-jarinya bergerak pelan, seolah mengulang irama lagu yang baru saja singgah. Di sisinya, sang ibu masih terdiam, bukan diam yang canggung, melainkan diam yang tahu dirinya tak sendirian.

 

Michael tertawa yang memecah kesunyian, “Well, I guess lullabies work in every language.”Saya tersenyum, lalu menoleh pada ibu muda itu. Tatapannya telah berubah lebih ringan. Seperti seseorang yang baru saja pulang dari badai kecil yang hanya ia sendiri yang tahu arah dan kekuatannya.

 

Ternyata, yang menenangkan bukan selalu kata-kata yang dimengerti, melainkan niat yang terasa walaupun suara yang terasa agak sumbang. Lirik yang sempat kami ubah ditemani gemuruh tawa, justru menjadi pengikat.

 

Pagi itu, di halte kecil yang belum dilewati tram, sebuah lagu sederhana menjadi jembatan. Bukan hanya untuk bayi yang menangis, tapi juga untuk hati seorang ibu yang mungkin tak sempat menangis. Dalam hening, kami tak perlu banyak bicara. Tapi entah bagaimana, hati terasa hangat.

 

“Even the unfamiliar can feel like home when it holds gentleness.”

Part 17.

 

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!