“Certain hands break rules not to rebel, but to keep the lights on at home”
Bus mulai merapat ke halte. Di kejauhan, bayangan Victoria Park sempat melintas di mata saya, dan bersamanya, satu kenangan lama perlahan muncul ke permukaan.
Beberapa tahun lalu, saya pernah ada di sana. Minggu pagi yang tenang dan sedang duduk santai di bawah pohon, menyuap bakso hangat dari seorang pekerja migran Indonesia yang menjajakan dagangannya secara diam-diam.
Tak ada meja, tak ada papan nama. Hanya aroma yang menuntun pembeli dari negeri yang sama. Tapi kehangatan itu tak bertahan lama. Suara gaduh datang cepat, disusul pekikan panik, “Pak De! Ada Pak De!”
Pak De adalah sebutan dari mereka untuk petugas dari Departemen Leisure Hong Kong. Seperti isyarat yang tak perlu dijelaskan, semua orang langsung berlarian, termasuk saya.
Padahal saya hanya pembeli yang sedang menikmati semangkuk bakso. Tapi ketakutan itu nyata, sebab di kota ini, makan pun bisa menjadi salah jika dibeli dari tangan yang dianggap tak punya izin.
Mereka tetap mencoba mencari celah, bukan karena ingin melanggar, tapi karena pilihan terlalu sempit dan lika liku kehidupan tak selalu mulu. Saya tidak membenarkan caranya, tapi saya paham dorongannya.
Semua demi sedikit uang tambahan, mungkin untuk memberi tempat berteduh yang lebih layak bagi anak-anak yang mereka tinggalkan di Indonesia, atau demi harapan-harapan lain yang tak sempat diutarakan, tapi akan dimengerti oleh siapa pun yang tahu rasanya bertahan di negeri orang.
“Rules protect systems. But sometimes, hearts protect families.”
Part 34.

