“Imperfections are the gentle marks of care and love.”
Saya, Mbak Patsy dan Chloe masih berdiri di depan kios kecil di dalam night market, mengunyah gorengan hangat yang baru saja kami beli. Setiap gigitan renyah membawa kehangatan yang sederhana, seperti pelukan kecil yang tak kasat mata.
Chloe mengunyah pelan sambil mengamati gorengan ditangannya, kemudian bertanya, “Mama, kenapa beberapa gorengan bentuknya berbeda? Sometimes not perfectly round or golden?”
Saya tersenyum, memandangnya dengan lembut. “That’s the beauty of it, sayang. Just like hearts, gorengan tak harus sempurna untuk bisa terasa istimewa.”
“Kadang, bentuk yang tak rata justru tanda bahwa gorengan dibuat dengan tangan, bukan machine. Semua dilakukan dengan penuh perhatian, dan ketidaksempurnaan itu justru membuatnya lebih berarti.”
Chloe mengangguk serious, lalu tersenyum lebar. “So, maybe strong hearts are like gorengan, they don’t have to be perfect to be strong. They just have to be real… and a tiny bit crispy! Ia lalu melanjutkan mengunyah gorengan yang renyah dengan senyum kecil di bibirnya.
Saya menarik napas dalam, merasa betapa sederhana dan dalamnya pelajaran kecil itu. “Yes, sayang. Strength isn’t about being flawless. It’s about being true, even with all the little cracks.”
Malam itu, di bawah lampu yang berkelap-kelip, kami belajar bahwa dalam ketidaksempurnaan tersimpan kehangatan dan kekuatan yang tulus, seperti gorengan renyah yang hangat di tangan kami.
“Every flaw is made meaningful by the touch of care.”
Part 21.

