“To survive is to move forward, even when the path disappears beneath each step.”
Saya sudah berada di tangga jembatan, langkah pelan menyesuaikan ritme pagi. Angin dari pelabuhan menggeser rambut saya ke arah wajah. Sesampainya di atas, mata saya tertuju pada sekelompok orang yang membuka dagangan di atas meja beroda.
Mereka menjajakan aneka barang yang semuanya ditata rapi. Tapi tak satu pun benar-benar diletakkan dengan tenang. Semua siap dilipat kembali dalam satu gerakan cepat.
Meja itu seperti perahu yang tambatannya longgar. Tinggal di beri dorongan sedikit, dan mereka bisa lenyap sebelum petugas sempat menaiki jembatan. Saya berdiri sejenak, memperhatikan cara mereka berjaga.
Tatapan mata yang selalu awas, kaki yang tak pernah benar-benar diam, dan tangan yang terus menata ulang, seolah ketertiban itu satu-satunya cara untuk terlihat sah, walau mereka tahu mereka tidak dianggap demikian.
Tiba-tiba saya teringat, saya pernah ikut lari saat ada razia, hanya karena membeli semangkuk bakso dari penjual tanpa izin di Victoria Park. Suasana pagi ini memantulkan kembali rasa siaga yang sama dari para penjual.
Tapi pagi ini, kisahnya datang dalam versi local, dengan wajah yang berbeda, namun ketakutan yang sama. Saya melanjutkan langkah, membiarkan suara roda-roda meja di belakang menyatu dengan langkah kaki sendiri.
Di kota ini, seperti di banyak sudut dunia lainnya, bagi mereka yang tak diizinkan menjajakan dagangan, hidup dijalani di batas yang rapuh. Di mata hukum mereka tak boleh ada, namun setiap hari mereka tetap muncul dan mencoba bertahan.
“Some days, survival means doing what can be done, not what should.”
Part 38.

