0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“True growth isn’t about being noticed,  it’s about quietly becoming what you’re meant to be.”

 

Langkah saya dan Sophie menyusuri jalan setapak yang membelah rerumputan, melewati lapak-lapak yang mulai menggeliat, menyeret aroma tanah kering diselingi semerbak coffee ukuran sachet, dan tawa ibu-ibu yang sibuk menata dagangan.

 

Udara pagi perlahan digantikan hangat cahaya yang menari lembut di ujung-ujung daun. Sophie masih menggenggam tangan saya, namun kini langkahnya mulai ringan, seolah tak sekadar berjalan, melainkan mengalir. Seperti anak sungai yang diam-diam tahu ke mana harus pergi.

 

Sesekali ia melompat kecil, menghindari genangan, atau berhenti sejenak saat sesuatu menarik perhatiannya. Kali ini, matanya jatuh pada seuntai bunga liar di tepi trotoar, dengan kelopak bunganya menggantung malu-malu, ungu lembut dengan semburat putih di pangkal kelopaknya.

 

“Mama,” bisiknya, menatap bunga itu, “do you think flowers get tired of waiting for people to notice them?” Wajahnya tampak setengah tenggelam dalam cahaya pagi.

 

 

Alisnya sedikit berkerut, bibir bawah digigit perlahan, seperti sedang menyusun rasa. Matanya, bulat dan jernih, memantulkan kelopak bunga kecil itu, seolah ingin mengerti kesepian yang mungkin ia bayangkan tumbuh di antara rumput dan beton.

 

Udara di sekeliling kami terasa lebih hening tiba-tiba, seolah udara pagi pun ikut mendengar. Angin lewat pelan. Udara terasa lebih sunyi, seperti pagi ikut berhenti sejenak, memberi ruang pada pertanyaan itu.

 

Saya tersenyum, membiarkan pertanyaannya mengendap sebentar di udara. “Mungkin,” jawab saya akhirnya, “tapi mereka tetap mekar… bukan karena dilihat, tapi karena itulah yang mereka tahu, sayang… yaitu tumbuh.”

 

“Even the quietest flower, blooming in the cracks, reminds us: grow anyway.”

Part 18.

 

 

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!