“Some people pass through your life like sunlight, brief, but everything feels warmer after.”
Saya dan Michael mulai melangkah pergi, perlahan meninggalkan halte yang tadi sempat terasa sunyi, sekarang seolah sudah dihangatkan oleh percakapan kecil yang tak pernah kami rencanakan, tapi ternyata sangat berarti.
Ibu muda itu mengangguk lembut sambil membenahi selimut bayinya. Wajahnya tampak lebih tenang. Tak banyak kata yang terucap sebagai perpisahan, hanya pandangan dan senyum saling menyambut, cukup untuk menjembatani rasa hangat yang sama-sama kami rasakan.
Beberapa langkah kemudian, saya menoleh sebentar. Ia masih di tempatnya, menggoyangkan stroller dengan lembut, kembali bersenandung pelan. Bukan lagi senandung Nina Bobo, mungkin lyric lain yang hanya dikenal oleh bayi dan ibunya saja.
Michael berjalan di sebelah saya, menatap lurus ke depan, tapi saya tahu pikirannya masih tertinggal di belakang. Lalu ia bergumam, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “Funny how just passing by can turn into something that stays.”
Saya tidak menjawab, hanya mengangguk. Kata-katanya tinggal di udara, dan saya membiarkannya mengendap, seperti embun yang menetap di daun tanpa suara.
Ternyata, tidak semua kehadiran harus lama untuk memberi makna. Ada orang-orang yang datang sebentar, tapi meninggalkan kehangatan. Seperti lilin yang menyala hanya satu menit, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa nyalanya walau sesaat mampu memberi kehangatan.
Kami terus melangkah di sepanjang trotoar yang dibanjiri cahaya pagi. Tak ada yang benar-benar berubah di sekitar kami, tapi rasanya sesuatu jadi lebih ringan. Seperti jendela yang entah sejak kapan tertutup, tiba-tiba terbuka pelan dan untuk sesaat, dunia terasa lebih hangat, begitu juga hati kami.
“You don’t have to stay long to make a difference, just long enough to care.”
Part 19.

