“Growth isn’t about forcing more,it’s about clearing what stunts you.” Mel Robbins
Pesawat masih melayang rendah, namun belum juga menyentuh bumi. Di luar, cahaya pagi memantul pada sayap, membuat langit tampak seperti cermin antik yang anggun, dengan sudut-sudut berpatina halus yang justru menambah kilaunya.
Wanita di samping saya menarik napas pelan. “Dulu saya mengira rasa lelah karena terlalu banyak bergerak,” katanya, menatap lurus ke depan. “Tapi ternyata rasa lelah itu karena terlalu banyak yang saya simpan.”
Saya tidak langsung menjawab. Hanya menatapnya dengan pelan, memberi ruang bagi kalimat itu untuk duduk bersama kami. Ia melanjutkan, “Saya ingin merasa ringan tapi setiap kali mencoba, saya malah sibuk bertanya, ‘apa lagi yang harus saya lakukan?’”
Saya mengangguk kecil, lalu berkata perlahan, “Mungkin pertanyaannya bukan apa yang harus ditambah… tapi apa yang bisa dilepaskan.” Ia menoleh perlahan, seolah kalimat itu membuka pintu yang selama ini hanya diketuk dalam diam.
“Saya selalu merasa harus lebih kuat, lebih baik, lebih… segalanya,” bisiknya. Saya melanjutkan, “Tapi tidak semua pertumbuhan datang dari menambah, ada yang justru datang dari mengurangi.”
Kami diam sebentar. Di sela bising mesin dan pengumuman di cabin, hening itu terasa utuh. “Mungkin seperti napas,” gumamnya akhirnya. “Yang paling menenangkan bukan yang ditahan, tapi yang dibiarkan mengisi ruang dengan lembut.”
Oh well, ternyata ketenangan bukan soal menjadi lebih, tapi soal memberi ruang untuk menjadi cukup. Pesawat belum juga mendarat. Tapi ada sesuatu yang lebih dulu sampai yaitu rasa berat yang perlahan dilepaskan, bukan didorong pergi, hanya diberi izin untuk tidak dibawa lagi.
A man asked a gardener why his plants grew so beautifully. The gardener said,”I don’t force them to grow. I remove what stops them.”
Part 4.

