“Unity keeps not only the people alive, but also the land where their lives take root.”
Mobil akhirnya berhenti di sebuah warung kecil di tepi jalan, dikelilingi oleh rumpun bambu dan aroma kopi hitam yang baru diseduh. Kami menuju ke meja kayu sederhana tidak jauh dari pintu.
Pemilik warung, seorang bapak tua dengan senyum ramah, menyambut seperti kawan lama. Kami lalu duduk di meja kayu sederhana, sementara aroma kopi hitam, tea hangat dan pisang goreng panas perlahan memenuhi udara.
Obrolan awalnya ringan saja, tentang jalanan yang belakangan sering rusak karena hujan, tentang tourist yang semakin ramai datang, bahkan tentang tanaman kopi yang dulu memenuhi lereng bukit tetapi kini makin jarang terlihat.
Di tengah percakapan itu, bapak itu tiba-tiba tersenyum tipis dan berkata pelan, “Ada pepatah Toraja yang selalu saya ingat, yaitu misa’ kada dipatuo, pantan kada dipomate.”
“Artinya apa itu, pak ? “ Saya memperhatikan dengan rasa penasaran. Ia menatap kami sejenak, lalu menjelaskan dengan nada tenang. “Arti dari misa’ kada dipatuo adalah satu kata, kita hidup.”
“Jadi kalau kita bisa berjalan dengan tujuan yang sama dan saling menjaga maka alam Toraja yang indah ini bisa terus bertahan.” ucapnya pelan dan suara sedikit bergetar.
Ucapannya membuat meja kayu itu terasa lebih hangat, seakan kata-katanya ikut menyatu dengan aroma kopi dan suara deru angin siang yang masih berhembus perlahan.
“A land is kept alive not by its soil alone, but by the hearts that protect it.”
Part 8.

