“Having somewhere to go is home. Having someone to love is family. And having both is a blessing.”
Unknown
“Mama, mbak Waty matanya sedih maybe karena tidak bisa ketemu anak dan cucunya.” Sophie menghampiri dengan raut wajah khawatir.
“Mata sedih itu seperti apa ?” Saya tersenyum melihat raut wajahnya yang panik.
“Like this, mama.” sembari mencontohkan mata dengan tatapan kosong dengan kedua belah tangan dipangkukan ke pipi.
“Iya , mungkin sedih karena susah cari bus untuk pulang kampung, pembatasan kan dimana-mana, sayang” Saya mengalihkan pandangan dari buku Sun Tzu’s The art of war yang sedari tadi sibuk saya bolak-balik halamannya saking menariknya.
“Yes, cuma sampai Solo. Mungkin Mbak Waty kangen dengan Kak Chandra dan cucunya.” Chloe menimpali dengan tatapan sedih menyebutkan nama anak satu-satunya yang tinggal di kampung bersama cucu dan mertuanya.
“Boleh tidak kita antar mbak Waty biar dia tidak crying lagi ?” Sophie bertanya dengan nada penuh harap seakan merasakan penderitaan dan kegalauan mbak Waty.
“Coba tanya papa yah, mungkin bisa sekalian road trip.” Saya beranjak dari kamar dan menghampiri Chris.
“Yeayyy.” Mereka melompat kegirangan walau pun belum pasti dan lagipula rencana tersebut sangat mendadak.
Saya menceritakan mbak Waty yang berkali-kali berencana pulang kampung , tertunda terus hingga setahun lebih karena PPKM.
Sebelum saya menanyakan kesediaannya untuk mengantar mbak Waty, Chris mengusulkan hal yang lebih menarik.
“We should take her karena dengan mobil pribadi lebih gampang. Kita stay saja di kota terdekat selama dua minggu karena belum tentu bisa dapat bus untuk pulangnya.”
“Yeayyyy, kita road trip lagi !” terdengar suara Chloe dan Sophie di background, ternyata mereka ikut mendengar sedari tadi dari balik dinding.
“Mbak, kota besar yang terdekat dari kampungnya apa ? Agar gampang cari tempat menginap.”
“Kampung saya jawa tengahnya sudah di perbatasan Jawa Timur, bu. Paling dekat kota Pacitan, sekitar 1 jam naik motor sudah sampai di kampung saya.”
Matanya langsung berbinar karena hanya tinggal hitungan hari ia bisa bertemu dengan keluarganya tanpa perlu pusing memikirkan bus pulang dan perginya.
Malamnya kami packing pakaian, memasang roof rack dan bersiap berangkat ke Pacitan. Kami mampir menginap di Klaten dan menyempatkan menikmati nasi tumpang lethok yang berisikan krecek, telur rebus, urap dan koyor sapi.
Koyor sekilas mirip dengan kikil tapi ternyata mereka hanya sepupuan, mirip tapi tak sama. Semua paduan yang menggoda itu disiram dengan kuah sambal tumpang dipadu daun jeruk sehingga wanginya terasa hingga suapan terakhir.
Kuahnya sangat unik karena perpaduan santan, cabai, tempe dan berbagai rempah mengingatkan saya akan carcamusa, saus sambal yang saya pernah nikmati di Toledo, Spanyol.
Komposisinya yang agak berbeda, tak ada tempe dan santan , digantikan oleh daging giling, jamur, tomat,oregano dan paprika. Kenikmatan lunch yang tiada tara tersebut ditutup dengan teh hangat ginasthel khas angkringan Klaten. Oh lucky me.
Keesokan paginya langsung mengantarkan mbak Waty ke depan pasar Arjowinangun yang merupakan meeting point dengan menantunya. Kami menikmati wedang serbet kolang kaling sambil menunggu menantunya tiba.
Selama dua minggu stay di Pacitan, mbak Waty bisa bertemu keluarganya dan disaat yang sama, anak-anak bisa menikmati ombak diatas papan surfing ditemani teriknya mentari pagi.
Keluarga tentu sangatlah penting karena siapa pun kita, mau jadi apa kita, keluarga tak akan pernah berhenti mencintai kita. Cinta yang mereka tanam didalam hati bukanlah cinta yang seumur jagung, melainkan sudah terpupuk puluhan tahun.
Sungguh bahagia karena Mbak waty bisa memiliki waktu yang berkualitas disaat bertemu keluarganya. Bersenda gurau dengan melibatkan rasa rindu yang sebelumnya selalu mendera, tanpa khawatir jaringan terputus tiba-tiba karena tinggal di pelosok.
Ia bisa bersentuhan, mendekap hingga mencurahkan seluruh perasaan yang tentunya mengalahkan perjumpaan virtual via video call.
“Chris, thank you karena telah memberikan surprise trip untuk mbak Waty. Ia sangat bahagia.” Saya mengucapkan dengan penuh rasa haru yang membuncah di dada.
“It’s okay, I am happy too melihat mbak Waty happy. Jika saya di posisi mbak waty, I would give everything, if I could only keep my family.”
Chris tersenyum dan memberikan good night kiss di dahi Nigel , Chloe dan Sophie yang sudah terlena karena seharian menjelajahi ombak bersama papan surfing.
“The time you spend with family keeps your inner clock running”
Unknown
March 30th , 2022

