“You can’t forgive without loving. And I don’t mean sentimentality. I don’t mean mush. I mean having enough courage to stand up and say, ‘I forgive. I’m finished with it.’” – Maya Angelou
Embun yang tersisa di dedaunan berkilau lembut di bawah cahaya mentari seolah-olah kota masih enggan bangun dari mimpinya. “Tapi itu berarti kamu membiarkan dia terus menyakiti kamu?” Arsyl menatap taman yang mulai ramai dengan langkah manusia.
“Maybe. Tapi memaafkan itu bukan berarti saya setuju dengan apa yang dia lakukan. Itu cuma berarti saya memilih untuk tidak menjadikan kesalahan dia sebagai beban saya.”
“Sarah,” nada suaranya lembut namun penuh arti, “memaafkan itu lebih tentang saya daripada tentang dia. Saya memaafkan bukan untuk dia, tapi untuk saya sendiri. Kalau saya terus memegang rasa sakit itu, saya tidak akan pernah bisa benar-benar bahagia.”
Saya mengangguk pelan, mencoba mencerna kata-katanya, perlahan mulai memahami sudut pandangnya. “Jadi, memaafkan itu semacam… melepaskan juga ?”
“Yep,” senyum kecil kembali menghiasi wajahnya. “Tapi melepaskan bukan cuma soal membiarkan sesuatu pergi, seperti dedaunan yang kamu analogikan tadi. Itu juga soal memberi ruang untuk hal-hal yang lebih baik.”
Dia berhenti sejenak dan menarik napas, “Memaafkan adalah cara menjaga agar ruang hati tetap bersih.” Saya tersenyum, “Arsyl, jangan lupa say good bye dengan sahabat kamu.” Kami berbalik, melambai ke para squirrels yang mengintip dari cabang-cabang pohon.
Suara parakeet berpadu dengan gema langkah kami di trotoar menciptakan harmony sederhana yang meresapi pagi. Pagi itu saya belajar tentang kekuatan hati untuk memilih kedamaian di atas rasa sakit. Itu bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian yang jarang kita sadari.
“Healing begins when the heart chooses peace over the weight of hurt.”
Part 11.

