0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“One day, we may look back and miss the ordinary days we never thought twice about.”

 

Pagi harinya, saya kembali membuka pintu kamar mereka. Secercah sinar matahari masuk melalui celah kecil di antara tirai yang belum sepenuhnya tertutup.

 

Udara kamar masih terasa dingin dari semburan AC dan kedua tempat tidur terlihat sedikit berantakan. Selimut pink masih menutupi tubuh Sophie sampai hampir ke kepala.

 

Satu kakinya keluar dari bawah selimut dan rambutnya menutupi sebagian wajah.  Chloe masih tidur dengan posisi yang hampir sama seperti semalam di tempat tidur yang satunya.

 

Saya berjalan mendekat lalu menarik sedikit tirai. Cahaya pagi jatuh ke lantai dan membuat kamar perlahan terasa lebih terang. Tidak lama kemudian Sophie bergerak dan membuka matanya. “Morning, mama.”

 

“Selamat pagi, sayang.” Ia menarik selimutnya lebih tinggi lalu menutup matanya lagi. Saya lalu tertawa kecil. “Ayo bangun.” Hari sebenarnya sudah dimulai sejak tadi tapi di kamar itu, rasanya belum perlu terburu-buru.

 

Masih ada selimut yang perlu dirapikan, tirai yang perlu dibuka dan dua anak yang harus dibangunkan. Nigel di kamar atas juga harus dibangunkan.

 

Hal-hal kecil seperti itu terus berulang setiap hari. Tidak ada yang special dari pagi itu. Hanya membuka tirai, merapikan selimut dan membangunkan anak-anak.

 

“What we do without thinking can become what we remember with feeling.”

Part 19.

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!