“Distance doesn’t separate us from home. It leads us back to ourselves.”
Dinding basement yang tebal memeluk ruangan dalam kehangatan yang sunyi diterangi cahaya lampu di sudut langit-langit. Bukan sepenuhnya sunyi, tetapi suasana yang terasa sendiri. Di tengah suasana itu, percakapan sederhana mengalir, ditemani manisnya basboussa.
Michael kembali menyandarkan punggungnya ke dinding beton, tatapannya jatuh pada keranjang pakaian yang hampir penuh.”Sarah, kadang saya merasa negara ini mengajarkan sesuatu yang berbeda. Di sini, semuanya terasa begitu… individual.”
Saya memiringkan kepala, menunggu dia melanjutkan. “Di Algeria hampir tidak ada waktu yang benar-benar sunyi. Semua terasa hidup, selalu ada tawa, obrolan, bahkan hanya secangkir coffee bersama. Di sini, meskipun tidak sunyi, rasanya seperti masing-masing orang hidup di dunianya sendiri.”
Saya merenung sejenak sebelum menghela napas panjang. “Di Indonesia juga begitu. Bahkan dengan orang yang baru dikenal, selalu ada suasana yang hangat, seperti keluarga. Di sini, suasananya… berbeda. Bukan buruk, hanya terasa lebih jauh, lebih tertutup.”
Michael mengangguk pelan, senyumnya mengembang. “Tapi mungkin itu ada hikmahnya. Kadang, saat semuanya terasa individual, kita punya waktu untuk mendengar diri sendiri. Sesuatu yang sulit dilakukan di tengah keramaian.”
Saya menatapnya, menyadari ada kebenaran dalam ucapannya. “Mungkin kamu benar, Michael. Kesunyian seperti ini bukan hanya soal tempat, tapi tentang ruang untuk merenung. Untuk menyadari hal-hal kecil yang sering kita anggap remeh.”
Kami terdiam, membiarkan kata-kata itu menggema di antara kami. Oh well, sometimes being somewhere that feels far helps us see the little things we usually miss, tune back into ourselves, and find meaning in moments we’d normally brush past.
“What we call ‘far’ often brings us nearer to the essence of who we are.”
Part 4.

