0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Not everything has to go back to the way it was. Change brings new strength.”

 

Suara mesin cuci sudah berhenti sejak tadi, meninggalkan kipas angin tua di sudut basement yang kini bergemerisik pelan. Kami sibuk melipat pakaian yang menumpuk di meja, menyisakan beberapa handuk di ujung. Saya mengambil satu, melipatnya perlahan, lalu berkata sambil melirik Michael.

 

“You know,” saya memulai, menaruh handuk yang baru rapi ke tumpukan. “Dulu di Indonesia, saya terbiasa pakaian dicuci oleh assistant rumah tangga. Baru setelah tinggal di luar negeri, saya belajar mencuci pakaian sendiri. Dan ternyata, hidup itu seperti mesin cuci.”

 

“Dulu, saya mengira pakaian tinggal dimasukkan semua, lalu berharap hasil akhirnya rapi, bersih, tanpa cacat,” saya tersenyum kecil. “Tapi ternyata, tidak semua noda bisa hilang. Ada yang tetap tinggal, meskipun sudah dicoba segala cara, bahkan mencuci dengan tangan sekalipun.”

 

Michael mengangguk pelan, berpikir. “Jadi menurutmu bagaimana?” Saya meletakkan handuk terakhir, lalu duduk selonjoran di lantai, menatap tumpukan pakaian. “Beberapa noda itu tak perlu dihilangkan. Mereka adalah tanda bahwa kita pernah berusaha.”

 

Saya melanjutkan, “Sama seperti pakaian yang terkena noda, hidup kita juga mengalami banyak proses yang membentuk kita hari ini.” Michael mendengarkan, memegang handuk yang sudah rapi sambil merenung. “Jadi, noda itu bukan musuh?”

 

“Bukan,” jawab saya, merasa lega. “Noda itu adalah cerita tentang usaha kita, tentang apa yang telah kita lewati. Terkadang kita berusaha menghapusnya, padahal justru di situlah kekuatan kita tumbuh.”

 

Oh well, setiap garis yang tertinggal, setiap noda yang membekas, mengingatkan pada perjalanan yang telah dilewati. Hidup mengajarkan untuk menerima perubahan, karena setiap proses itu turut membentuk kita menjadi siapa kita hari ini.

 

“Our stories are written in the marks left behind, not in spotless perfection.”

Part 9.

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!