0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“A smile is sometimes a soft murmur of hope we give ourselves, when nothing else speaks back.”

 

Saya melanjutkan langkah, melewati tiang-tiang jembatan yang mulai silau diterpa matahari. Angin datang perlahan dari arah Victoria Harbour, membawa aroma besi hangat dan sisa-sisa bayangan pagi yang baru mulai merayap di sela bangunan.

 

Beberapa langkah kemudian, saya kembali menoleh. Si penjual masih di tempatnya, bersandar pelan di kursi lipat kecil, tangannya sibuk melipat sapu tangan yang sempat disentuh.

 

Ia menatanya kembali satu per satu, seakan tak ingin membiarkan ada yang tergulung setengah hati. Di sela-sela itu, ia tersenyum. Tipis, hampir tak terlihat jika tak sungguh-sungguh memperhatikan.

 

Senyum yang tak diarahkan pada siapa pun dan tak muncul untuk menyenangkan atau meyakinkan. Bukan pula senyum yang mencari balasan, tapi semacam jeda lembut yang tumbuh untuk dirinya sendiri.

 

Ada sesuatu yang kuat dan tenang dalam senyum itu. Seperti selimut halus yang hanya dipahami oleh mereka yang pernah kehabisan kata untuk menjelaskan, lalu memilih diam sebagai pelindung.

 

Mungkin ia tak sedang merasa baik-baik saja. Mungkin justru sebaliknya. Tapi di tengah segala yang tak pasti, ia memilih untuk tetap tenang di tengahnya.

 

Di balik meja sederhana itu, di antara tenunan kain dan lipatan harapan, ada ketulusan yang tak menuntut sorotan. Ia tak sedang menjual senyum namun merawat dan menghibur ruang dalam dirinya agar tak runtuh dan tetap teduh.

 

“A smile can be a lullaby we give ourselves, when no one else remembers the tune.”

Part 41.

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!