0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Some warmth waits in the wings, stepping in only when the noise fades.”

 

Asap tipis menari dari wajan pad thai bertemu dengan aroma tusuk sate yang berdesis di atas bara. Dari sudut lain, aroma ketumbar, serai, dan lengkuas dari tom yum yang mengepul di sudut kios dan asapnya seakan bertemu dengan asap pad thai.

 

Masih menanti segelas air panas yang belum juga datang, kantong rooibos tergeletak tenang di meja, belum tersentuh, tapi wanginya samar menyeruak meski belum terseduh.

 

Bukan perkara besar, memang, tapi menunggu bisa terasa panjang. Namun malam itu, riuh pasar, cahaya lampu yang menggurat meja kami, serta aroma masakan dari kios-kios sekitar, membuat waktu terasa seperti air, lambat, namun membawa ketenangan.

 

Chloe memainkan embun di gelas plastic Thai teanya, menggambar lingkaran-lingkaran kecil sambil tertawa saat buih lembut menyentuh ujung hidungnya. Mbak Patsy memutar sedotan juice sambil melanjutkan ceritanya, suaranya sesekali tenggelam dalam riuh pasar.

 

Tawa anak-anak terdengar dari arah penjual balon. Di belakang kami, spatula bertemu wajan, sepeda motor berlalu, dan sepasang kekasih berdiri berbagi tusuk sate, wajah mereka tertutup asap dan cahaya. Tapi anehnya, semua itu terasa seperti latar, bukan inti dari kisah malam ini.

 

Saya menarik napas pelan. Mungkin itulah pelajaran malam ini bahwa tidak semua hal harus datang dengan cepat. Kadang, yang paling menghangatkan justru datang saat kita sudah cukup tenang untuk menunggunya.

 

Segelas air panas akhirnya tiba. Saya menyeduh rooibos perlahan, dan aromanya naik bersama uap, seperti kenangan lama yang sabar menunggu waktu untuk kembali.

 

“The quietest comforts bloom slow, as if listening for the hush in our hearts before stepping forward.”

Part 30.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!