0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Not all footprints are made by feet. Some are pressed deep by memory.”

 

Keesokan paginya, langit masih gelap ketika saya meninggalkan rumah. Suara koper yang terguncang di lantai garasi terdengar seperti ritme pelan dari perpisahan yang terlalu sering diulang.

 

Chloe dan Sophie masih setengah tertidur saat memeluk saya lebih erat dari biasanya, seolah ingin menahan detik-detik yang terus melaju. Nigel berdiri di samping pintu, diam dan tenang, hanya mengangguk pelan dan memberikan pelukan hangat.

 

Di dalam mobil menuju airport, saya menoleh sekali lagi ke belakang. Kota masih tertidur, lampu jalan menyala redup, dan udara subuh membawa aroma sisa hujan semalam.

 

Hati saya tak lagi seutuh kemarin, tapi juga tak sepenuhnya sepi. Ia tetap membawa pulang sepasang genggaman kecil dan tawa yang belum selesai disimpan.

 

Saya teringat satu hal, kadang yang membuat sebuah perjalanan berarti bukanlah seberapa jauh kita melangkah, tapi seberapa dalam kita mengingat siapa yang kita tinggalkan sementara.

 

Hari itu bukan tentang perpisahan, tapi tentang kehadiran sebab mencintai tidak berarti harus selalu saling berekatan. Kadang, cinta hadir dalam bekal kecil yang kita tinggalkan.

 

Sepotong perhatian, suara yang masih terngiang di kepala, atau wangi baju yang tertinggal di pelukan, semuanya menyimpan jejak yang tak mudah hilang. Cinta yang tulus tahu caranya bertahan di antara keberangkatan dan kepulangan.

 

“True presence leaves footprints on the heart, even when the room is empty.”

Part 43.

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!