“Loosening our grip is how we learn the language of the road.”
Saya akhirnya naik ke dalam bus Cityflyer A11, menaiki tangga sempit menuju lantai dua dan memilih kursi paling depan, tepat di balik jendela lebar. Koper kecil telah saya letakkan lebih dulu di lantai bawah sebelum menaiki tangga.
Udara di dalam bus terasa sejuk. Perlahan bus bergerak meninggalkan airport. Pemandangan di luar berubah pelan-pelan dari terminal yang berganti menjadi jalan layang, berkelok di antara perbukitan dan bayangan pelabuhan yang samar.
Dari kejauhan, gedung-gedung mulai tampak, sebagian tertutup kabut pagi yang belum selesai mengangkat tirainya. Saya menyandarkan kepala ke jendela, membiarkan gemuruh machine dan derik roda menjadi semacam music latar yang tak mengganggu.
Tidak banyak yang saya pikirkan, hanya ruang untuk menyerap suasana. Di tengah keheningan itu, teringat betapa sering kita ingin mengendalikan arah hidup, seperti memilih route tercepat lewat GPS.
Padahal hidup bukan peta digital sehingga tidak selalu memberi tahu di mana harus belok, atau kapan harus berhenti.
Kadang, kita hanya perlu duduk tenang, membiarkan perjalanan mengantar kita ke deretan life lesson yang tidak pernah ada di dalam agenda.
Yang bermakna ternyata bukan hanya tujuan, melainkan bagaimana kita hadir di setiap perhentian dalam diri.
“Some of life’s truest lessons arrive only when we loosen our grip on the wheel.”
Part 16.

