“The heart that stays open never runs out of warmth.”
Sophie melangkah ke arah public kitchen, rambutnya yang panjang masih sedikit lembap dan ujung-ujungnya menempel di baju karena angin laut yang belum benar-benar reda.
Tempat itu terbuka tanpa dinding penyekat, hanya dinaungi atap kayu yang kokoh, tak berderit walau angin sesekali berembus kuat. Di kedua sisinya berdiri dua kulkas besar, penuh dengan aneka buah tropis khas Indonesia.
Di sebelahnya, deretan lemari kayu dengan laci-laci kecil menampung bahan makanan dari berbagai penjuru, mulai dari pasta, tea, bubuk coffee hingga sebotol tabasco dengan tulisan yang nyaris pudar.
Udara dipenuhi aroma campuran dari sedikit garam laut, wangi jeruk nipis dari sabun cuci piring dan jejak panggangan dari makan malam yang baru saja selesai.
Lampu kuning yang tergantung di tengah memantulkan cahaya lembut di atas meja panjang dari kayu. Di sana para tamu yang mayoritas adalah tourist mancanegara biasa duduk sambil mengobrol dan memasak bersama.
Dari kejauhan, Sophie mendengar tawa beberapa tourist yang baru pulang dari pantai, dengan pasir masih menempel di kaki mereka. Tawa itu terdengar ringan, seperti ombak yang baru pecah dan belum sempat kembali ke laut.
Angin laut yang melintas di sela meja dan kompor seakan berbisik bahwa kehangatan tidak hanya datang dari api, tapi dari hati yang memilih untuk tak membangun dinding.
“The mind is a house with many rooms. The only walls we have are the ones we build ourselves.” — Carl Jung
Part 9.

