“The best kind of tired comes from doing something that matters.”
Kami berjalan pulang dengan kantong belanjaan di tangan, langkah sedikit melambat setelah hari yang panjang. Begitu pintu apartment terbuka, udara hangat menyambut kami, contrast dengan angin malam di luar yang mulai menusuk.
Chloe segera melepas sepatunya, lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur dengan napas lega. “Finally,” gumamnya, setengah menguap. Saya melangkah ke dapur lalu menyalakan kettle mini yang selalu menemani setiap perjalanan. Aroma chamomile mulai menguar begitu air panas menyentuh kantong tea.
“Minum dulu sebelum tidur,” menyerahkan cangkir kecil dan Chloe menerimanya dengan mata setengah tertutup. “Mama, capek sekali but I am happy.” Saya memberikan pijatan lembut di bahunya. “Capek yang menyenangkan itu tanda kalau kita sudah melakukan sesuatu yang berarti.”
Ia mengangguk kecil, menyeruput tea perlahan. “Jadi… kalau kita tidak pernah merasa capek, itu artinya kita belum melakukan apa-apa?” tanyanya polos. Saya tersenyum, merapikan selimut yang sudah ia naikkan ke atas.
“Kadang, iya. Rasa capek bukan selalu sesuatu yang buruk, justru itu tanda kalau hari ini telah diisi dengan hal yang berharga.” Chloe menggigit bibirnya, berpikir sejenak sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Kalau begitu, besok saya mau capek lagi, but in a fun way!”
Saya tertawa, mengecup keningnya. “Tidur yang cukup dulu, baru besok kita pikirkan mau capek karena apa.” Chloe ikut terkikik sebelum matanya perlahan terpejam.
Oh well, hidup bukan tentang menghindari lelah, tapi memilih kelelahan yang berarti, karena di setiap langkah yang melelahkan, selalu ada sesuatu yang tumbuh, baik dalam diri maupun di sekitar kita.
“Feeling tired means we tried, and trying helps us grow.”
Part 20.

