“Home is where the heart finds peace, even if the roof is different.”
Michael terus menatap mesin pengering yang berputar, seperti sedang berbicara dengan pikirannya sendiri. Akhirnya, dia bersuara, “Kamu tahu, saat pertama kali tiba di sini, saya berpikir meninggalkan rumah hanya soal pergi jauh. Tapi ternyata, rumah itu tidak pernah benar-benar meninggalkan kita.”
Tenggorokan saya tercekat oleh rasa rindu yang tiba-tiba menghantam. “Ya,” saya berkata hampir berbisik. “Seolah-olah ada yang selalu kita bawa. Kehangatan itu, kebiasaan kecil, bahkan aroma masakan dari dapur rumah. Semuanya tetap hidup di sini,” saya menekan tangan ke dada, “di hati.”
Michael tersenyum kecil, lalu menoleh dengan tatapan hangat. “Kadang, kita memang harus belajar menemukan rumah di tempat baru. Tidak seperti di Algeria atau Indonesia, tapi sesuatu yang kita ciptakan sendiri misalnya dari kebersamaan akan hal kecil, seperti menunggu laundry.
Saya terdiam membiarkan kata-katanya bergema. Ruangan basement yang dingin tiba-tiba terasa lebih hangat. Mata saya menyapu sekitar dan berhenti pada sosok Michael, sahabat yang tanpa sadar sudah menjadi bagian dari “my little home” di Swiss.
“Kamu benar, Michael,” sembari menatap mesin pengering yang kini berhenti, tanda bahwa waktu menunggu selesai. “Rumah tidak harus selalu tentang tempat, tapi tentang rasa. Dan juga tentang orang-orang yang membuat kita merasa tidak sendirian.”
Michael berdiri, mulai mengeluarkan pakaian dari mesin. “Mungkin kita tidak akan pernah merasa benar-benar pulang seperti di negara sendiri. Tapi, jika kita bisa menemukan kehangatan tali persahabatan di sini, itu sudah cukup, bukan?”
Saya tersenyum, mengangkat pakaian yang hangat lalu mendekapnya sebentar dan hati terasa ringan karena telah menyusun ulang makna tentang rumah. Rumah bukan hanya tempat yang kita tinggalkan, tetapi juga sesuatu yang bisa kita temukan di mana pun, selama ada rasa kedamaian di dalamnya.
“Wherever you go, if you find peace and love, that’s your home.” – Debasish Mridha
Part 2

