0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Every star shines because it burns from within, just as our dreams fuel the light that guides our way.”

 

Saya dan Chloe duduk berdua di sana, di bawah langit yang seperti canvas raksasa. Bintang-bintang bertaburan, memercikkan cahaya lembut yang menari di udara. Chloe menatap kilauan itu, seolah mencoba mendengar rahasia yang mereka bisikkan dari kejauhan.

 

Hanya suara gemericik air di Star Ferry Pier yang menyapa bibir dermaga, hingga akhirnya Chloe memecah keheningan. “Mama, kalau bintang bisa bersinar karena punya bahan bakar di dalamnya, manusia bahan bakarnya apa? Apa yang membuat kita bersinar?”

 

Pertanyaannya menggantung di udara, seolah langit malam pun menunggu jawaban. Saya tersenyum lembut, menatapnya sebelum menjawab. “Chloe, manusia juga punya bahan bakar. Tapi bukan seperti bintang yang menggunakan hydrogen.”

 

Chloe dengan mata berbinar, segera menyela. “Seperti Mama dengan rooibos tea? Kalau Mama minum tea, Mama langsung segar lagi! Jadi tea itu bahan bakar Mama.”

 

Saya tertawa kecil, mengusap lembut pundaknya. “Bukan tea, sayang. Itu hanya seperti api kecil yang membakar sebentar. Tapi bahan bakar yang sebenarnya, yang membuat kita bersinar, adalah mimpi, harapan, dan cinta.”

 

Chloe mengerutkan alis. “Mimpi? Maksud Mama, seperti mimpi saat kita tidur?” Saya menggeleng perlahan. “Bukan, sayang. Mimpi yang tinggal di hati kita. Seperti keinginan untuk membuat dunia lebih baik, mengejar apa yang membuat kita bahagia, dan peduli pada orang lain.”

 

“Itulah bahan bakar yang membuat kita terus melangkah, walau terkadang jalannya terasa sulit.” Saya mengusap kepalanya dengan lembut, sementara bintang-bintang di langit malam seolah ikut mendengarkan.

 

“Just like a star that shines from within, our dreams fuel the light that guides our way.”

Part 4.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!