0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“The stronger position you can be in is complete surrender.”

 

Langit di bulan Desember diselimuti oleh dinginnya udara yang kadang dipenuhi oleh salju walaupun tak setebal di beberapa negara Eropa lainnya. Saya duduk di kursi antik di sudut kamar dan mengarahkan pandangan ke jendela berbingkai kayu jati yang ukurannya hampir menutupi satu dinding.

 

Suasana masih terlihat senyap karena merupakan suasana pagi di akhir pekan. Hanya terdengar gerisik daun tertiup angin yang sejak tadi malam berhembus kencang.

 

Suasana di tempat saya duduk terasa hangat tidak hanya karena api yang berkobar dari pemanas ruangan di sudut kamar, tetapi juga karena suasana kamar yang terbungkus oleh wallpaper bernuansa bunga berwarna coklat pucat.

 

Pagi itu, Desember 2004, sewaktu gelombang tsunami menghantam Aceh, salah satu sahabat dan juga housemate saya yang berasal dari Aceh, yaitu bang FF sedang berada di Leeds, Inggris, untuk melanjutkan S2nya sedangkan keluarganya semua tetap berada di Aceh.

 

Kamar apartemennya tepat berada di samping kamar saya. Masih teringat jelas dalam ingatan, ia datang tergopoh-gopoh ke kamar saya dan minta menyalakan channel BBC. Berita tsunami menjadi breaking news dan kami langsung melihat streaming liputan 6 di internet untuk melihat berita yang lebih lengkap.

 

Dari layar komputer dan televisi, pemandangan memilukan akibat tsunami terpampang jelas di hadapan kami dan jari saya sampai sekarang pun masih bergetar, tak mampu mendeskripsikan secara detail tentang suasana kepiluan tersebut.

 

Saya lalu berpaling dari screen dan menatap wajah bang FF. Ia diam terpaku, namun selang beberapa menit, ia menuju ke kamarnya untuk segera mengganti baju dan kembali mengetuk pintu dan masuk ke apartemen saya.

 

“Ayo, Sarah. Kita jalan-jalan ke City Center,” ajaknya dengan wajah yang tegar walaupun sorot matanya tetap terlihat gundah.

 

Saya pun bergegas bersiap menemani ke City Center, tak berani bertanya panjang lebar. Kami semua merasa resah karena sambungan telepon ke Aceh putus sama sekali sehingga kabar masih tak menentu.

 

“Bang FF, semoga keluarga Bang FF di Aceh baik-baik saja yah. Tapi apakah Bang FF yakin tetap mau jalan-jalan ke City Center untuk refreshing?” Saya akhirnya memberanikan diri bertanya dengan nada lirih.

 

“Iya, Sarah. Mengenai keluarga, saya harus sudah siap jika hal yang terburuk terjadi pada mereka di sana.”

 

“Jangan berkata begitu, saya jadi tambah sedih,” saya mulai menitikkan air mata.

 

“Sarah, saya tentunya berharap yang terbaik, tapi saya harus bisa melihat kemungkinan yang terburuk sehingga mental saya sudah siap. Semuanya saya pasrahkan kepada Allah.”  Suaranya tetap tegas walaupun ada getaran rasa khawatir.

 

Sepanjang perjalanan kami tak membahas sama sekali tentang tsunami tersebut karena saya pun bisa merasakan bahwa bang FF ingin mencoba mengalihkan pikirannya.

 

Sesampainya di City Center, kami langsung menuju ke tempat favorit kami yaitu Next Clearance Outlet. Letaknya berada di sudut City Center, tidak jauh dari Etam dan Body Shop. Sesampainya di sana, sudah terlihat kerumunan orang yang berbelanja karena 26 Desember adalah boxing day atau great sale di seluruh penjuru Inggris.

 

Bang FF mulai sibuk memilih baju-baju untuk anak-anak dan istrinya. “Walaupun saya harus siap terhadap hal yang terburuk, namun saya berharap mereka selamat. Oh iya, menurut Sarah lebih bagus model yang mana untuk istri saya?” Ia bertanya sambil menunjukkan baju kaus wanita berwarna biru dan merah. Saya lalu mengambil dan menempelkan ke badan sambil mematutkan di kaca.

 

“Bagus dua-duanya, Bang FF. Biru terlihat lembut, merah penuh semangat,” saya akhirnya tertawa melihat wajah bang FF yang nampak makin bingung dan memutuskan untuk membeli kedua kaus tersebut.

 

Di balik renyahnya canda tawa kami sebagai sahabat, saya sempat tertegun sejenak sambil mengamati raut wajahnya yang sangat kuat. Bang FF saat itu telah menyadarkan saya pentingnya untuk memasrahkan segala sesuatu hanya pada Allah sehingga ritme perasaan bisa terjaga.

 

Hampir 14 tahun tsunami berlalu dan Aceh telah lama bangkit kembali. Trauma masih menggelayut di hati, namun hidup harus terus ditapaki. Peristiwa tsunami  yang terjadi mengingatkan saya bahwa sehebat dan sekuat apapun kita sebagai manusia, namun kekuatan kita sangatlah terbatas. Kita tetap berserah pada Allah karena sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

“And my affair I leave it to Allah. Verily, Allah is the All-Seer of (His) slaves.”

“Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”

(Surah Ghafir, ayat 44)

 

October 16th, 2018

More story about my life as a globetrotter:

Behind The Brand

 

museum tsunami aceh museum tsunami aceh museum tsunami aceh museum tsunami aceh museum tsunami aceh museum tsunami aceh museum tsunami aceh

Bagikan ini: