0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“It’s the simplest things- the rituals you keep, the way you speak to yourself, how you react to the unexpected- that determines your quality of life.  It’s not how impressive you can make your life seem to others. It’s the way you can extract lessons and growth from even the most challenging situations. It’s not how many friends you have but many friends you actually connect with, who see the truth of you.  The simplest things can often be the hardest in a world that has told us simplicity isn’t enough. Your joy is found in true, grounded gratitude.  It’s found in respecting, showing up for and being honest with yourself. It’s found in listening to your emotions instead of busying yourself out of them.

 

We think we have to earn our well-being, but it’s always available to us. Don’t mistake the world’s definition of a “ good life” for your own, for the simplicity of what truly matters to you.  This world will  have you chasing down sh*t that doesn’t matter. When you can access joy in the simplicity of life, everything becomes more magical.

Jamie Varon – American writer

 

Saya dan François mendorong kursi roda  Jacques dengan penuh semangat karena tak sabar rasanya ingin menghempaskan badan di rerumputan yang hijau segar di Jardin des tuileries.

“Look, earl grey tea-nya masih hangat di thermos, sangat cocok diminum dengan French milk dari kamu , Jacques dan kita serasa minum English tea ala keluarga kerajaan Inggris.”

“Makin sempurna karena saya membawa aneka chocolate dessert.” François menimpali.

“Apapun bentuknya kalau chocolate pasti saya …” tiba-tiba saya terkesiap dan speechless saat Francois membuka lunch box.

 

Terlihat barisan aneka dessert mewah  dengan sentuhan chocolate yang sangat eye to detail. Tanpa sadar saya mengamati tidak hanya dengan kedua pasang mata tapi  hidung saya ikut maju hingga menyentuh seakan mengamati barang antik penuh nilai seni namun ini adalah versi makanannya.

 

“Coa, apakah ini cake atau dummy dari plastic ? So delicate.”

“Coa ?Namanya François atau Frans.Kenapa menjadi Coa ?”

“Coa terdengar cute, bagaimana kalau kamu saya panggil Terry. Dia adalah salah satu tokoh cartoon favorite saya. Stunning dan gayanya cool seperti kamu. Kamu versi manga dalam bentuk three D-nya.”

 

Yes, Terry Jacques.Stunning, oh well, merci. Vous êtes belle, Sarah.”

Jacques menatap dengan senyum ceria tersungging dan pantulan mata hijaunya semakin cemerlang ditimpa oleh pancaran mentari

“Tapi apakah di cartoon tersebut Terry juga memakai kursi roda dan disabled seperti saya ?” Dalam sekejap wajah Jacques terlihat mendung.

 

“Oh Jacques, please bear in your mind, our mind is our biggest strength. Whether we see something within our reach or out of reach depends upon how our mind feels about it. Lihat cake dari Coa ini, hanya dengan menatap terlihat bahwa dia telah menanamkan dalam dirinya jika mampu menciptakan masterpiece seartistik ini.”

 

“Kamu pun sama. Tadi saat saat kita keliling the louvre , cara kamu menerangkan dengan detail membuat saya mampu menembus ruang waktu dan seakan kembali  ke zaman yang kamu kisahkan. So amazing.” Saya mencoba menerangkan secara perlahan dengan nada yang lembut.

 

“Saya setuju ,Sarah . Banyak orang menciptakan ketakutan dalam pikirannya masing-masing. They think they can’t do it, even before attempting it . Saya tak akan pernah mau berpikiran seperti itu. When I limit my thinking, I limit my mind’s ability to push for more.” Coa ikut menimpali dengan suara yang tak kalah lembutnya.

 

“Ah, artinya  the greatest power is my mind but only if I can conquer it.”

Yep, Terry, tapi ingat kamu juga harus menerima kenyataan bahwa kadang tidak bisa mendapatkannya straight away. Butuh kesabaran tingkat tinggi. Kuncinya adalah kamu harus melatih pikiran untuk focus on what you want so at the end, you leave no doubts.”

 

Kali ini intonasi suara saya terdengar ceria melihat Jacques kembali bersemangat. “You are right ,Sarah .I am not disabled and there is no abled or disabled person because what makes me as a person is both my physical and mental strength.”

 

And the ability to make chocolate cake karena di negara saya, cinta itu datangnya dari perut.” Saya melepas canda dan kami bertiga pun terbahak bersama dibawah naungan biru langit Paris hari itu.

 

“I don’t need easy. I just need possible.” – Bethany Hamilton – One-armed professional surfer

September 22nd, 2022

Bagikan ini:
error: Content is protected !!