“Our actions over the next 10 years will determine the state of the ocean for the next 10,000 years”
Sylvia Earle
Zhongshan Road night market yang terletak di kota Nanning adalah salah satu pusat street food yang paling terkenal di China. Diantara jalanan yang hanya sepanjang 300 meter berjajar aneka makanan di kedua sisi. Hidangan khas dari provinsi Guangxi, Guangdong, Yunan hingga Hunan tersaji lengkap.
Aneka pilihan mulai dari cumi ,tiram , lobster , kepiting ,udang hingga merpati dengan aneka pilihan saus dari hoisin, tausi hingga Szechuan peppercorn. Aneka olahan mie dari Lo mein, Mie Biangbiang atau mie ikat hingga mie wonton dengan topping jahe parut turut menyemarakkan suasana.
Tak lupa hidangan khas yaitu merpati panggang dan chòu dòufu, tahu dengan aroma yang menyengat. Terdapat juga aneka kuliner extreme seperti laba-laba , kalajengking hingga kecoa yang membuat saya dan mbak Patsy bergidik. Tidak habis pikir apa rasanya saat mahluk rapuh tersebut dilumat agar mudah meluncur masuk melewati tenggorokan.

Saat menyusuri jalanan menuju Zhongshan Road, kami melewati hotel megah yang tepat berada didepan night market. “Mbak Sarah , Yong Jiang Hotel hotel adalah yang pertama di Nanning dan presiden China Dinasti Ming yaitu Deng Xiaoping pernah menginap disini lho.”
Mbak Patsy menjelaskan dengan penuh semangat sembari menunjuk hotel yang tepat dihadapan kami. “Berarti hotel tertua yang masih berdiri kokoh hingga sekarang, apakah di dalamnya masih terawat?” Menganggukan kepala meresapi sebaris informasi yang dijabarkan mbak Patsy ibaratnya tour guide dadakan.
“Pertama kali ikut CA Expo, aku dan Wita ikut paket yang menginap di hotel ini, mbak. Dalamnya masih bagus sempurna, terawat dan bersih.” Tak terasa kami sudah berada diantara sesaknya pengunjung dan dari kejauhan aneka seafood sangat menggoda.
“Mbak Patsy, yuk cobain, kalau di Indonesia lobster mahal, disini pasti murah banget.” Saat sibuk mengamati, tiba-tiba mbak Patsy berteriak dan menutup mata dengan kedua belah tangannya, “Ahh mbak Sarah ada Patrick ditusuk dan dipanggang. Ah tidak tega.”
“Patrick siapa ? Mana mbak ?” Memandangi sekeliling dengan mengeryitkan dahi mencari sosok pria yang katanya lagi dipanggang. “Itu Patrick temannya Sponge Bob.” Mukanya memerah menahan tangis sembari menunjuk ke bintang laut yang sedang dipanggang diatas bara api.

“Oh iya, Patrick kan baik hati yah , yuk kita pindah.” Mengusap punggung mbak Patsy. Tak tahan akhirnya tersenyum lebar melihat ekspresi mbak Patsy yang sangat panik.
“Aduh itu Patrick, koq tega sih.” Bibir dikatupkan rapat setelah selesai mengeluarkan isi hatinya. “Iya, kasihan , kita cari makanan lain saja. Wah lihat, warna minuman gaulnya cantik.” Mencoba mengalihkan pembicaraan agar ia bisa kembali ceria.
Penggalan kisah tersebut kembali terputar ulang di memory saat saya sekeluarga berada di Pacitan. Setiap pagi Nigel , Chloe dan Sophie surfing ditemani oleh coach mereka masing-masing dan saya menemani di bibir pantai.
Terdengar pekik bahagia saat mereka bisa mendapatkan gelombang ombak yang tepat hingga semakin lama membumbung tinggi dan akhirnya melambat membawa mereka kembali mendekati bibir pantai. Suasana pantai saat itu sunyi senyap, tak ada pengunjung satu pun karena tepat sehari sebelum lockdown sehingga seluruh pusat wisata termasuk pantai ditutup.
Hanya kami sehingga deburan ombak terdengar lebih jelas ditemani pantai yang bersih karena tak ada satu pun sampah yang berserakan. Walaupun sering ke pantai , belum pernah saya menyelami dan menyatu dengan setiap unsur dari pantai sedalam ini.
Rambut chestnut brown Sophie semakin berkilau terguyur air laut dengan serpihan pasir ikut menghiasi di antara helai rambut layaknya bandana. Aroma asin air laut tercium jelas saat Chloe menghampiri dengan pipi merona merah dihiasi serpihan pasir makin membuat wajahnya semakin bersinar.
Nigel dari kejauhan juga dipenuhi oleh pasir hingga ke boardshort-nya namun dengan santai hanya dibersihkan ala kadarnya, menikmati setiap moment dari hempasan ombak. Kini saya menyadari kepanikan mbak Patsy saat itu, menyatu dengan keindahan pantai tanpa memporak porandakan habitat laut, itulah kemewahan yang sebenarnya.
Dear Patrick sang bintang laut, semoga kamu dan teman-teman di kedalaman laut sana bahagia dan aman sentosa.
“Why is it that scuba divers and surfers are some of the strongest advocates of ocean conservation? Because they’ve spent time in and around the ocean, and they’ve personally seen the beauty, the fragility, and even the degradation of our planet’s blue heart.”
Sylvia Earle
28th of June, 2022

