“Friendship is not a transaction. None of us keeping the note book in our back pocket with all the things that friend has done for us. When they ask us to do something and you said ‘you know, I have done four things for you and you have only done three so I don’t believe I owe you anything’. That’s not what friendship is. Friendship is : I could do a thousand things for someone and they do nothing for me, but I can walk around with absolute confident that one day if I need something, I know without a shadow that they’ll be there. It’s not an equation, it’s a feeling. The way you get that feeling by investing on that friendship and you build the confidence that they will be there for you.”
Simon Sinek, the author of “Start with why” and “The infinite game”
Manchester terkenal sebagai kampung halaman beberapa band besar dari Inggris seperti Simply Red, Oasis, Take That, New Order, The Charlatans, hingga The verve. Kota ini sangat berkesan karena disinilah saya menjalin tali persahabatan yang unik.
Peter dari Belanda dan Sean dari Irlandia adalah teman kampus saya di fakultas Hukum selain Hong yang berasal dari Mainland China serta Arsyl dari Kazakhstan. Igor,Aleksey dan Okb berasal dari jurusan yang berbeda namun sama-sama berasal dari negara dengan rumpun yang sama dengan Arsyl.
Temaramnya bulan purnama malam itu menemani langkah saya, Peter dan Sean menuju kembali ke Moberly Hall. “Sarah , kami ingin mampir ke pub untuk segelas beer. First, antar kamu pulang lalu kami balik kesini” menunjuk Irish pub dengan cat dinding berwarna sehijau botol Heineken.
“ Tidak usah, saya tunggu kalian saja diseberang , bisa baca buku sambil makan kebab, kalau kalian pulangnya drunk bagaimana ?”dengan nada khawatir. “ No way, hanya satu pint. ” Peter berkata dan disahut Sean” Promise”.
Saya tidak henti memandang keseberang jalan karena tidak ingin terlewat disaat mereka keluar dari pub. Tiga puluh menit kemudian, mereka keluar dan saya segera berlari kecil ke seberang untuk menjemput.
Saya khawatir kalau mereka sampai drunk pastinya kalau mereka menghampiri saya duluan, akan langsung menyeberang tanpa melihat kanan dan kiri. Mereka tetap sober dan tidak heran karena orang Eropa terutama Irish people, perlu beberapa gallon untuk membuat mereka mabuk.
Sesampai di apartment, kami menikmati dinner berupa soda bread, roti khas Ireland. Saya tidak telaten dalam hal perbakingan, namun begitu rindunya Sean akan makanan kampung halamannya membuat saya rela ke Asda supermarket dan China town di tengah derasnya hujan demi mencari kelengkapan bahan dan membuatnya.
Bahkan meminjam oven dari apartmentnya Hong di Withwork Park dan dengan penuh perjuangan menggiring dengan trolley yang saya pinjam dari security hingga kehujanan dan nyaris masuk angin.
Setelah makan bersama dan kembali ke apartment mereka masing-masing, saya segera berlari menuruni tangga darurat agar cepat sampai ke lantai apartment Arsyl. Saya mengetuk pintunya tujuh kali sebagai tanda kalau itu saya. “Hey Arsyl , ini ada 4 potong roti soda untuk kamu, Igor, Alek dan Okb. Satunya lagi masih dikamar, untuk Hong. Ayo, waktunya untuk siram tanaman kamu “
“Arsyl, kenapa sih kamu tidak bisa mingle dengan Sean dan Peter ? Begitu juga Hong, saya kan pusing harus membagi waktunya.” Nada menggerutu namun tangan saya tetap sibuk menyirami pot bunga disekitar kamarnya.
“We have unspoken rule between men yang pastinya semua wanita to this day have trouble understanding. So let it be, okay. ” melemparkan senyum manis namun dingin yang mirip dengan gaya senyuman Eric Cantona, pemain football yang terkenal zaman itu.
Usaha agar mereka bisa hang around bersama sia-sia hingga akhirnya saya tidak pernah membahasnya lagi . Beberapa bulan kemudian , asthma saya kambuh hingga tak masuk kelas hari itu.
Tanpa disangka sorenya, pintu kamar diketuk dan tampak mereka bertujuh dengan membawa aneka penganan hingga roiboos tea kesukaan saya. Saya menggosok mata dengan mulut terbuka lebar saking terpananya. Mereka menyingkirkan perbedaan dengan segala theory dan datang menjenguk.
Sejuknya angin musim semi yang menerobos perlahan melalui kisi jendela tak sesejuk hati ini melihat kebersamaan sahabat-sahabat saya saat itu. Peter, Sean, Hong, Arsyl, Igor, Aleksey dan Okb because all of you, I laugh a little harder, cry a little less, and smile a lot more.
“It’s the friends we meet along the way that helps us appreciate the journey” Unknown
March 7th, 2022

