“Success is subjective, so define it for yourself. Don’t allow your life efforts to be dictated and judged according to other people’s standards.”
Unknown
Dari arah kanan dan kiri pantai nampak jukung-jukung berwarna hijau para nelayan berjejer rapi. Hati tergugah melihat mereka berjuang untuk bertahan hidup. Di balik siraman terik matahari yang makin menyengat , mereka rela berendam berjam-jam tak henti melemparkan jala untuk seuntai asa.
Mentari pagi yang sedari tadi bertengger semakin terik membakar kulit. Iringan awan berlomba menjauh membuat gradasi langit secemerlang batu zamrud yang bertahtakan berlian.
Tiba-tiba suara yang tak asing lagi terdengar dari arah belakang. Mas Bira, kurir pengantar makanan yang setia mengantarkan makanan setiap harinya berjalan menghampiri saya di bibir pantai.
“Ibu, pin bagi lokasinya salah”dengan nafas tersengal-sengal menunjukkan posisi yang saya share ternyata ditengah lautan. Saya baru menyadari karena terburu-buru ternyata pin point masih tertera accurate 900 meters. Rambut ikal menutupi sebagian dahinya dan kumis tipis menghiasi senyumnya yang polos.
Ia rela bersusah payah, all out mengantarkan makanan dan matanya berkilat bahagia disaat ia sukses menemukan posisi saya yang benar.Alasan sederhana dibalik dedikasinya tersebut, masih terngiang dihati hingga saat ini . “Saya senang karena berhasil menemukan posisi ibu. Kalau tidak, nanti ikan bakar dan cah kangkungnya tidak hangat dan renyah lagi.”
Pikiran saya mulai mengembara mencoba mencerna kembali definisi success yang selama pandemic ini layaknya puzzle yang coba saya rangkai kembali.
Semakin massive-nya postingan yang bertemakan success dengan pencapaian disaat umur 20 tahun sudah memiliki apa atau umur 30 tahun sudah bisa beli apa, membuat saya tercenung. Lambat laun saya menyadari kalau standard setiap kesuksesan akan berbeda pada setiap orang. Saya sempat bertanya kepada diri sendiri, kenapa bisa berbeda ?
Ternyata setiap orang memulainya dari start line yang berbeda, tentunya finish line dan seberapa jauh jaraknya pun akan berbeda pada setiap orang. Jenis perlombaannya pun berbeda.
Ada yang lari gawang, tolak peluru hingga balap karung. Saya tidak usah terlalu terpengaruh dengan postingan yang mendewakan pencapaian dengan hal lebih bersifat satu sisi jenis currency saja yaitu materi.
Apakah hanya segelintir orang seperti mas Gary Vee , Mas Seth Godin atau mas Elon Musk yang menjadi parameter orang success? Apakah guru SD saya, ibu Risma yang rela basah kuyup menerjang derasnya hujan agar bisa membimbing muridnya bukan orang yang sukses ?
Bagaimana dengan guru mengaji di zaman saya kecil , yang selalu sabar tak jemu mengajar dan menebar kebaikan bagi para muridnya, apakah tidak bisa dinobatkan sebagai orang yang sukses ?
Apakah seorang ibu rumah tangga yang setiap hari harus multitasking sebagai seorang teacher, chef, counselor dan driver kepada anaknya tidak bisa diberi gelar sebagai wanita yang sukses ?
Bahkan asisten rumah tangga yang membersihkan setiap hari rumah yang kami tempati selama disini tidak bisa dikatakan sukses ?
Apakah para nelayan yang rela berpanas-panasan untuk membawa segenggam harapan untuk anak istrinya adalah bukan termasuk orang yang sukses ? Apakah jika belum mencapai financial freedom adalah orang yang gagal?
Padahal mereka semua adalah orang orang yang sangat tulus didalam bekerja. Hati sering berdesir melihat ketulusan mereka didalam bekerja. Sungguh tinggi dedikasinya dan sungguh dalam ketulusannya.
Apakah mereka bukan orang yang sukses walaupun bekerja dengan sepenuh hati dan jiwa raganya ? Apakah success harus berdasarkan standard orang lain ? Begitu banyak pertanyaan yang muncul di hati saat itu.
Hingga tiba pada suatu titik yang membuat saya semakin menyadari kalau lika liku kehidupan setiap orang tentulah sangat berbeda-beda. Sehingga tak ada seorang mahluk di dunia ini yang berhak menjudge kalau seseorang itu adalah orang yang sukses atau tidak.
Mas Bira sangat menikmati pekerjaannya dan bisa terlihat dari kilatan mata bahagia dan sepasang senyum yang selalu disuguhkan setiap mengantarkan makanan. Currency kesuksesan setiap orang tidak selalu berdasarkan seberapa banyak jumlah followers , likes ,subscribes atau passive income.
Di masa pandemic ini saya semakin menyadari bahwa ada jenis mata uang yang lain. Kesehatan jiwa dan mental, hubungan dengan keluarga, circle pertemanan, dan kedamaian hati adalah beberapa contoh currency yang lain.
Saya harus selalu bisa menentukan nilai sukses tanpa perlu compare dengan orang lain. Nilai pembandingnya adalah diri saya yang “yesterday” vs “now”.
Mas Bira dengan ketulusan dan keteguhannya telah mengingatkan saya tentang makna terdalam dari kata sukses.Terima kasih, Mas Bira.
“Define success by your terms, not by other people’s standards”
Mensah Oteh
January 8th, 2022


