0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Solidarity is based on the principle that we are willing to put ourselves at risk to protect each other.”

Starhawk

 

Setelah pulang dari Hongkong, saya lanjut menuju ke Bandung menyusul Izza untuk menghadiri acara kopdar akbar Yubi, komunitas bisnis dari Mas J.

 

Setelah acara selesai, kami langsung menuju stasiun untuk pulang ke Jakarta. Suasana perjalanan pulang yang nyaman di gerbong executive sambil menikmati teh yang mengepul hangat membuat saya terlena.

 

Kami memilih turun di stasiun Jatinegara agar bisa naik kereta dalam kota untuk menghindari macet menuju pulang ke rumah jika naik taksi. Setelah turun, saya menghampiri petugas kereta api.

 

“Selamat sore, Pak. Maaf mengganggu, di mana saya harus membeli tiket untuk menuju stasiun Kebayoran ?”

 

“Ibu keluar dahulu dan masuk kembali lewat pintu yang itu. Beli tiketnya di sana. Ibu nanti naik yang jurusan Tanah Abang dan ganti kereta di sana yang menuju Kebayoran” katanya sambil menunjukkan arah dengan jarinya.

 

“Oh, tidak langsung yah, Pak? Waduh barang bawaan saya banyak,” sambil melihat barang yang terdiri dari koper ukuran kabin, tas jinjing besar, dan satu buah handbag, akhirnya saya mengurungkan niat untuk naik kereta.

 

Saya dan Izza berpisah di pintu keluar. Suasana di luar sudah terlihat padat karena hari sudah semakin sore. Tak terlihat satu pun taksi yang reputable seperti Blu*bird sehingga saya memanggil taksi online.

 

Semua supirnya menolak order karena jarak dari Jatinegara ke rumah saya di Jakarta Selatan cukup jauh apalagi di rush hour. Di aplikasi Waze semua jalanan di seluruh Jakarta berwarna merah.

 

Setelah lebih dari 30 menit mencoba tak ada hasil, saya kembali ke stasiun dan membeli tiket kereta menuju Kebayoran.

 

Sebenarnya bisa saja saya pulang ke rumah yang di Jakarta Timur dan menuju rumah yang di Jakarta Selatan setelah macet selesai.

 

Namun, saya teringat janji kepada anak saya untuk kembali secepat mungkin. Ada midtest Bahasa Indonesia di keesokan harinya dan Sophie, anak yang paling kecil ingin didampingi belajar.

 

Tak lama menunggu di platform 4, kereta menuju Bogor via Tanah Abang tiba. Saya pun masuk ke dalam gerbong kereta.

 

Petugas kereta lewat di depan pintu, saya menghampiri dan bertanya untuk meyakinkan jika saya di kereta yang benar.

 

“Iya betul, tapi kereta ini baru berangkat 30 menit lagi dan akan sangat penuh karena menuju Bogor. Sebaiknya naik kereta yang menuju Manggarai dan di sana ganti kereta menuju Tanah Abang, lalu ganti yang menuju Kebayoran.”

 

“Wah, ribet dong, Pak. Sampai ganti dua kali.”

“Keretanya lebih sepi, Ibu bisa terjepit kalau naik kereta ini, tapi terserah ibu.”

 

Saya dengan sigap keluar dari kereta dan pindah ke platform 1, selang beberapa menit keretanya tiba.

 

Kereta tersebut berhenti jauh melewati tempat saya menunggu sehingga harus berlari menuju pintu kereta terdekat yang terbuka.

 

Begitu pintu kereta terbuka, semua penumpang yang ingin keluar dan masuk saling berdesakan secara bersamaan.

 

Saya terjepit, tapi karena ingin secepat mungkin sampai rumah, saya ikut memaksakan badan saya masuk ke dalam himpitan kerumunan penumpang.

 

Pintu kereta tertutup, namun tas jinjing saya masih terjepit sebagian di luar. Saya ingin menarik, tapi karena sudah terjepit saya cuma bisa berteriak dengan panik. Untungnya beberapa penumpang wanita di sekitar membantu hingga tas bisa masuk ke dalam.

 

Saya berdiri dalam posisi membelakangi pintu, lalu wanita di samping saya memberi saran, “Mbak, coba badannya diputar menghadap pintu karena pas sampai di Manggarai, orang yang akan masuk dan keluar akan saling mendorong seperti tadi. Tadi saja ada ibu-ibu yang jatuh terpelanting dan kita bantu berdiri, kalau tidak bisa terinjak-injak oleh penumpang lain.”

 

 

“Bagaimana cara berputarnya sedangkan sekarang pun kita tidak bisa bergerak. Barang bawaan saya juga banyak.”

 

“Mari kita bantu, pelan-pelan saja.” Salah satu ibu yang juga dalam posisi terjepit memegang tas besar dan yang satunya memegang koper saat saya memutar posisi badan perlahan hingga akhirnya bisa menghadap ke pintu.

 

Setibanya di stasiun Manggarai, saya langsung melompat keluar sekuat tenaga karena di saat yang bersamaan, serbuan penumpang yang masuk datang menghadang.

 

Setelah keluar, saya baru menyadari bahwa gerbong yang saya naiki adalah gerbong wanita. Di balik wajah mereka yang menyimpan peluh, rasa solidaritas antar sesama mereka sungguh tinggi.

 

“As women, we must stand up for each other.”

Michelle Obama

 

October 22nd, 2018

 

Bagikan ini: