Sigtuna adalah kota kecil yang terletak di benua Eropa dan berada di antara Stockholm dan Uppsala, Swedia. Kota kecil ini dibangun pada abad ke 10 atau sekitar 980 Masehi, oleh seseorang yang bernama Viking King Erik Segersall Swedia (Erik the Victorious).
Sigtuna dalah kota tertua di Swedia dan terdiri dari jalan-jalan sempit yang berkelok-kelok, di sana juga terdapat puluhan bahkan ratusan rumah kayu yang berjejer rapi serta toko-toko kerajinan tangan.
Meskipun kotanya sangat kecil namun kota ini dikategorikan sebagai kota eco-municipality selama lebih dari 17 tahun. Kota kecil ini juga sangat mengutamakan gerakan peduli lingkungan serta selalu melakukan konservasi.
Sebelum bergabung pada program Badan Energi Swedia di tahun 2008 dengan tujuan ingin menjadikan kota berkelanjutan, kota ini sudah merancang kota yang ramah lingkungan. Adapun caranya adalah dengan menyediakan ruang tebuka hijau, menerapkan bangunan hemat energi, menggunakan sistem transportasi yang ramah lingkungan serta pengelolaan air dan pengelolaan limbah secara baik dan benar.
Kota ini juga termasuk ke dalam Fair Trade City. Sama seperti kota Roma, London dan Brussels, kota ini merupakan negara yang adil dan etis terhadap konsumsi. Ini menandakan, Sigtuna memang memiliki sejumlah toko besar dan bisnis yang mematuhi persyaratan Fair Trade untuk kategori pengadaan serta menyediakan produk ramah lingkungan.
Kota kecil ini juga memiliki area hutan yang sangat luas, taman, ladang khusus untuk hewan ternak, lingkungan perairan yang sangat penting serta bangunan-bangunan yang bersejarah. Sebagian besar dari kawasan-kawasan tersebut dilindungi oleh cagar alam.
Kota ini juga memiliki motto unik, yaitu “Tidak ada yang boleh berjalan kaki lebih dari sepuluh menit di daerah hijau”. Motto tersebut juga selalu disuarakan komunitas peduli lingkungan di kota kecil ini untuk semua masyarakat.
Selain memiliki berbagai area hijau yang dilindingi oleh cagar alam, kota ini juga memiliki bandara yang ramah lingkungan. Stockholm Arlanda Airport adalah bandara pertama dan satu-satunya di dunia yang memiliki tutup emisi karbon yang telah mendapat izin lingkungan dari pemerintah setempat. Bandara ini juga telah berhasil mengurangi jumlah emisi karbon.
Bangunan dari bandara juga memiliki pemanasan distrik dari bahan bakar nabati, dan memiliki tenaga listrik yang bersumber dari angin, biofuel dan tenaga angin. Armada yang digunakan juga secara bertahap diganti menjadi kendaraan yang ramah lingkungan.
Stockholm Arlanda Airport juga menjalin kerjasama dengan semua maskapai yang akan landas ke bandara ini, serta mendorong untuk menggunakan pesawat modern. Bandara ini juga mengharuskan semua maskapai untuk mengganti pewasat tua dan beralih kepada pesawat baru dan modern karena emisi karbon dari pesawat modern lebih sedikit dibandingkan dengan pesawat tua serta mengurangi kebisingan agar tidak menimbulkan polusi suara.
Air limbah di bandara ini juga didaur ulang menjadi pupuk. Air bekas pencucian kendaraan dan air bengkel ditampung lalu diolah dengan baik dengan cara menghilangkan polutan serta menyaring kadar logam serta minyak yang ada. Air tersebut lalu diolah kembali sehingga menjadi pupuk untuk tanaman di sekitar bandara.
Dikatakan sebagai bandara ramah lingkungan pertama di dunia, Stockholm Arlanda Airport mendapatkan pengharaan pertama di dunia yang diberikan Airport Council International (ACI), pengharagaan ini diberikan karena pencapaian kerja yang bagus serta pendekatan yang inovatif untuk pengeloaan lingkungan.
Tidak hanya memiliki bandara yang ramah lingkungan, kota ini juga memiliki taman air yang indah serta bersih. Taman ini melakukan pembersihan air secara biologis. Kinerja dari taman ini menyaring air kotor dengan membuat sistem tambak, yang terdiri dari batu, tanaman, kerikil lalu dialirkan kembali secara alami hingga menjadi air yang bersih dan segar.
Sebuah peternakan di Sigtuna juga menciptakan serta menawarkan lapangan kerja bagi orang-orang yang berimigrasi ke Swedia. Mereka juga memberitahukan cara bekerja di pedesaan serta memberi penjelasan menjelajah daerah tanpa merusak alam.
Berbagai cara telah diterapkan Sigtuna agar menjadi kota ramah lingkungan pertama di Swedia. Meskipun kota kecil, kota ini telah menantang tiga kota terbesar di Swedia, seperti Gothenburg, Malmo, dan Norrkoping untuk menjadikan kota ramah lingkungan dengan emisi karbon dioksida yang bersih. Tidak hanya untuk tiga kota tersebut, ini merupakan tantangan sekaligus motivasi dari Sigtuna untuk kota-kota di belahan dunia manapun agar mengikuti jejaknya.


