0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

Penggunaan plastik di dunia mode telah kita ketahui bersama memang masih di terapkan sampai saat ini, namun semakin banyak gerakan untuk menghentikan atau minimal mengurangi hal tersebut. Majalah Pret a  Porter sejak beberapa bulan yang lalu telahh mendedikasikan untuk tidak menggunakan plastik lagi . Kerjasama ini dilakukan dengan Parley, dan diedit oleh brand ambassador yaitu model Anja Rubik.

 

Edisi terbaru dari majalah tersebut telah menggunakan kertas daripada menggunakan kemasan plastik biasa  dan begitu perusahaan net a porter telah menggunakan semua sisa stoknya yang terakhir yang  masih mengandung plastik, mereka akan menggunakan kemasan kertas secara permanen.

Hal tersebut adalah  bagian dari komitmen yang dibuat perusahaan untuk membersihkan diri mereka dari plastik yang tidak  berguna. Tempat pemotretan mereka sekarang pun adalah zona yang bebas dari plastik – tidak ada botol yang dibuang, cangkir kopi atau alat makan yang terbuat dari plastik atau sekali buang, dan begitu juga dengan kantor mereka telah bersih dari hal yang mengandung plastik. “Saya tidak melihat satu botol plastik pun di setiap meja di sini,” demikian kata Yeomans yang merupakan  direktur konten global untuk grup Yoox Net-a-Porter.

Namun gerakan tersebut tidak hanya dari sekadar tidak menggunakan botol plastik atau apa pun yang mengandung plastik untuk mengimbangi industry fashion yang telah terpapar dengan plastik. Erik Solheim yang merupakan kepala dari bagian lingkungan untuk PBB berkata bahwa telah terjadi “bencana plastik” secara global.

 

Dampak Buruk dari Penggunaan Plastik di Dunia Mode

Setiap tahun semakin banyak bahan mentah untuk membuat produk yang terbuat atau mengandung plastik  seperti kain, ritsleting, kancing, banyak komponen sepatu, aksesoris dan tas , yang akan berakhir di tempat pembungan sampah atau bahkan di dasar samudra. Limbah tersebut butuh berabad-abad untuk bisa hancur di dalam lautan.

 

Livia Firth, istri dari artis Colin Firth juga berkata bahwa saat ini ia makin menyadari  ada masalah nyata dalam penumpahan mikrofibres di dalam siklus pencucian untuk serat sintetis. Ia merupakan juru kampanye lingkungan dan pendiri dari konsultan keberlanjutan Eco-Age.

 

Banyak merek fashion yang berbiaya rendah dan menerapkan fast fashion telah memadukan sintetis menjadi miliaran produk demi menghemat biaya produksi. Ada pekerjaan besar yang harus dilakukan dalam membangun kembali serat alami tersebut. Pekerjaan  tersebut sangat besar mengingat tampilan mengkilap yang menarik, plastik  vinil, PVC, dan kulit yang mengkilap – adalah tampilan utama untuk  trend fashion di 2018.

 

Pendiri dari merek Parley, Cyrill Gutsch, telah mengatakan bahwa para desainer dan  pemilik merek harus melepaskan diri dari ketergantungan terhadap plastik. Organisasi ini menganjurkan kebijakan untuk menghindari, mencegat serta mendesain ulang untuk berhenti menggunakan plastik, mengumpulkan  limbah plastik di laut yang telah terakumulasi di dasar lautan serta mendaur ulang menjadi bahan dan tekstil baru.

 

Penggunaan Plastik di Dunia Mode dan Usaha Melawan Limbah Plastik

Sejumlah desainer dan merek yang mapan mendengarkan dan mengikuti hal tersebut. Stella McCartney, yang bekerjasama dengan Parley pada tahun 2016 untuk membuat  sepatu dari bahan plastik laut untuk Adidas, sekarang menggunakan polyester daur ulang dan Econyl ( nilon yang dibuat dari plastik industry seperti kain limbah dan jaring ikan ) dan berkomitmen untuk berhenti menggunakan setiap nilon  pada tahun 2020.

 

Tahun lalu, merek dari Swedia yaitu  H & M menggunakan botol plastik PET dari polyester yang telah di daur ulang di beberapa produknya. Mereka juga meluncurkan pakaian pertamanya yang terbuat dari limbah daur ulang, menggunakan bahan baru bernama Bionic dan berkolaborasi dalam proyek di Indonesia yang disebut Bottle2Fashion, yang mengubah sampah plastik daur ulang menjadi bahan poliester.

 

Merek dari Inggris yaitu Marks & Spencer di musim panas ini telah meluncurkan mac polyeware yang bisa di daur ulang yang dibuat dengan 50% polyester daur ulang, yang bersumber dari botol plastik bekas. Ini adalah bagian dari rencana keberlanjutannya, yang berkomitmen untuk membuat setidaknya 25% pakaian dan produk rumah dari bahan yang dapat di didaur ulang pada tahun 2025.

 

Hal tersebut menjai renungan bagi kita semua bahwa salah satu hal paling penting yang kita  harapkan dapat seterusnya di lakukan adalah masyarakat menyadari  bahwa penggunaan plastik di dunia mode sangat merusak lingkungan.

 

fashions war on plastic pollution Penggunaan Plastik di Dunia Mode fashions war on plastic pollution Penggunaan Plastik di Dunia Mode fashions war on plastic pollution Penggunaan Plastik di Dunia Mode fashions war on plastic pollution Penggunaan Plastik di Dunia Mode fashions war on plastic pollution Penggunaan Plastik di Dunia Mode fashions war on plastic pollution Penggunaan Plastik di Dunia Mode

Bagikan ini: