“In every pause, there is either a quiet surrender or a silent struggle.”
Lampu putih memantul lembut di permukaan logam di sekeliling conveyor belt dan udara membawa aroma samar airport. Tak jauh dari tempat saya menunggu, seseorang berdiri terlalu dekat dengan jalur bagasi.
Matanya tidak lepas dari conveyor belt dan mengikuti setiap koper yang lewat seperti sedang mengejar sesuatu yang bisa saja hilang jika ia berkedip terlalu lama. Tubuhnya tegang, seolah waktu perlu dijaga agar tidak melarikan diri.
Di sisi lain, ada seorang anak yang duduk di atas trolley koper dengan botol minum di tangannya. Ia tidak menatap jalur bagasi terus menerus.
Sesekali ia mengamati orang yang lewat lalu kembali diam, seperti tidak sedang menunggu apa pun yang penting dan hanya membiarkan waktu lewat dengan caranya sendiri.
Saya melihat keduanya dalam ruang yang sama tetapi hadir dengan cara yang berbeda di dalamnya.
Satu orang seperti sedang memegang waktu terlalu erat dan takut tertinggal sedikit saja. Yang lain seperti membiarkan waktu mengalir tanpa perlu dikendalikan.
Di situ saya mulai melihat bahwa menunggu bukan hanya soal apa yang akan datang tetapi tentang bagaimana kita hadir di dalamnya, apakah dengan gelisah yang mengejar atau tenang yang menerima.
“Not all stillness is the same, some tremble with tension and others breathe with peace.”
Part 16.

