“Not all comfort asks to be discovered. Some live in the familiar things we reach for without question, even when the world around us keeps changing.”
Seusai makan, kami berdiri dan berjalan ke salah satu kios minuman. Chloe menunjuk Thai tea kesukaannya, dengan es batu dan buih susu yang mengembang lembut di permukaannya. Mbak Patsy memilih juice buah segar, warnanya lembut, seperti potongan rembulan yang dicairkan.
Saya menelusuri daftar menu namun tak menemukan pilihan hot tea, maka saya memesan segelas air panas dari kios yang sama, lalu kembali ke meja. Dari dalam tas, saya mengeluarkan kotak kecil berisi kantong-kantong tea,teman setia dalam setiap traveling.
Kotak itu seakan membuka dirinya, memperlihatkan ragam rasa yang telah lama menemani. Tanpa ragu, tangan saya menarik satu kantong, rooibos, tea kesayangan sejak masa kuliah dulu
Chloe meniup busa Thai teanya dari gelas plastic sederhana, lalu menyeruputnya perlahan. Sementara itu, saya masih menggenggam kantong tea, menanti air panas yang sebentar lagi akan dibawa ke meja
“Mama, don’t you ever get bored of drinking the same tea all the time?” matanya sedikit menyipit sambil menahan senyum. Saya tersenyum, “Tidak, sayang. Rasanya seperti Duckie, boneka kesayangan Chloe itu. Meskipun boneka lama, tetap yang paling nyaman dipeluk sebelum tidur.”
Chloe terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. Di sekitar kami, pasar masih riuh namun rasanya semua itu menjauh perlahan, memberi ruang bagi malam untuk menyisakan sunyi yang hangat.
Dari Thai tea yang manis, juice buah yang segar hingga kantong rooibos tea, saya menyadari bahwa terkadang, memilih bukan soal kapan mencicipi rasa baru,tapi juga tahu kapan menyeduh kembali rasa yang telah lama kita cintai.
“Comfort doesn’t always come from something new, sometimes it’s found in what we’ve chosen again and again, with quiet love.”
Part 29.

