“Do not get upset with people or situations, both are powerless without your reaction.”
Saya kembali menyesap tea tarik yang masih hangat, membiarkan suara riuh di sekeliling mengalir begitu saja. Di meja yang sama, tiga wanita yang ramah masih berceloteh, suara mereka berbaur dengan denting sendok beradu dengan gelas.
Perlahan, obrolan mereka bergeser. Tawa yang tadi membahana kini meredup, menyisakan jeda sejenak, seolah memberi ruang bagi percakapan yang lebih dalam. Wajah mereka tetap santai, namun ada ketenangan yang berbeda saat salah satu dari mereka membuka topic baru.
“Dia mudah benar terasa hati dan kemarin terus saja meninggikan suara pada saya.” ujar wanita berkerudung kuning, mengaduk tea-nya perlahan. Nada suaranya terdengar ringan tanpa beban walaupun saat itu membahas seseorang yang baru saja mencoba menyakiti hatinya.
Wanita berkerudung biru mengangguk, menyandarkan siku ke meja. “Dulu, kita pun pernah begitu, kan? Rasa geram, rasa ingin balas kata-kata orang. But now…” Dia menghela napas kecil, matanya menatap jendela, seakan melihat sesuatu di luar sana yang hanya bisa ia pahami.
“Semakin tua, kita sedar, tak ada guna ikut geram.” Seolah tanpa beban, salah satu dari mereka menunjuk ke gelang emas yang melingkar di pergelangan tangan masing-masing. Percakapan pun beralih begitu saja, seakan rasa kesal hanya lewat dan tak sempat benar-benar hinggap di wajah mereka.
Saya mendengarkan dalam diam, kata-kata mereka menggema di benak. Betapa seringnya kita membiarkan diri terseret dalam pusaran emosi. Padahal, sering kali bukan orang lain yang membuat hati gelisah, melainkan cara kita sendiri yang memilih untuk menyerapnya.
Hidup ini mungkin dipenuhi banyak hal yang dapat memicu amarah, tetapi pada akhirnya, kitalah yang memilih, terbakar olehnya atau membiarkannya berlalu. Keadaan tak selalu dalam kendali, tetapi cara kita meresponsnya, bukankah itu selalu ada dalam genggaman?
“Anger is a spark, you choose whether it fades or turns into a wildfire.”
Part 5.

