0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Time is not always the measure of closeness.”

 

Mobil terus menurun perlahan, melewati deretan rumah tongkonan yang berdiri anggun di tepian jalan dengan atap yang melengkung tinggi seperti perahu terbalik menghadap langit.

 

Beberapa tampak renta dengan kayunya yang menghitam dimakan waktu, namun ukirannya tetap tegas, seolah menyimpan kisah nenek moyang yang tidak pernah benar-benar pergi.

 

Di kejauhan, lembah Makale terhampar hijau yang berlapis-lapis, seperti kain tenun yang dibentangkan di bawah cahaya sore. Bersamaan dengan angin yang membawa aroma tanah basah  bercampur bunyi samar lonceng sapi dari ladang.

 

Sophie menatapnya lama dan matanya mengikuti jalur sungai yang berkilau di sela pepohonan, seakan arusnya sedang membisikkan cerita yang hanya ia yang bisa mendengarkan.

 

Ia tidak bicara namun jemarinya menyentuh kaca jendela, seolah ingin menyimpan pemandangan itu di genggaman, takut suatu hari kenangan itu memudar.

 

Nigel hanya melirik sebentar  lalu kembali bersandar dan membiarkan keheningan mengikat mereka bersama. Di luar, angin siang mengusap pucuk padi, langit mulai merona keemasan, dan suara lonceng sapi semakin sayup dari lembah.

 

Saat itu, ada rasa hangat yang sulit saya beri nama, seperti mengingat sesuatu yang baru saja terjadi, namun sudah terasa akrab. Mungkin ada kenangan yang tidak perlu lama berlalu untuk bisa dimengerti, cukup dirasakan saat ia datang dalam diam.

 

“Not all understanding needs time , some arrive fully formed in a single breath.”

Part 6.

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!