“Peace finds you when you stop holding onto what was never meant to stay.”
Hening sejenak menyela, seiring angin pagi menyusup perlahan lewat jendela yang sedikit terbuka. Gelas-gelas di meja sudah setengah kosong, tea tarik yang tadi hangat kini mulai mendingin, tapi percakapan mereka dengan logat Melayu yang kental justru semakin menghangat.
Wanita berkerudung biru meletakkan gelasnya dengan lembut. “Pelik, kan? Dulu kita selalu rasa perlu membalas. Seakan kalau kita diam, orang akan fikir kita lemah.” Matanya menerawang, seperti menggali kenangan lama.
“Tapi rupanya, diam itu bukan kalah. Diam itu ruang untuk kita menang dengan cara yang berbeza.” Yang lainnya mengangguk pelan, tersenyum seperti memahami sesuatu yang dulu terlewat.
“Kadang bukan orang yang perlu kita maafkan, tapi diri sendiri,” sambung wanita berkerudung kuning, jari-jarinya menyusuri tepi gelasnya yang berembun. “Katakan maaf sebab pernah terbakar amarah, dan katakan maaf sebab pernah simpan sesuatu yang sepatutnya kita lepaskan.”
Salah satu dari mereka lalu menarik napas dalam, menutup mata sejenak, lalu menghembuskannya perlahan lalu berkata “breath in, breath out.” Setelah itu, dengan wajah jenaka, dia mengulangi gerakannya secara berlebihan, menekan dadanya dramatis seolah-olah tengah melepaskan beban seumur hidup.
“Ahhh, rasa ringan betul!” katanya, sebelum akhirnya mereka semua meledak dalam tawa. Gelas-gelas di atas meja ikut sedikit bergetar, seakan turut terguncang oleh gelombang keriangan yang memenuhi ruangan.
Saya menarik napas pelan, membiarkan kata-kata itu meresap. Betapa seringnya kita memegang terlalu erat hal-hal yang seharusnya sudah kita biarkan pergi. Padahal, dunia tetap berputar, pagi tetap menjelma, dan kita, pada akhirnya, harus belajar melepaskan tanpa membawa sisa luka dalam genggaman.
“Moving forward starts with an open hand, not a clenched fist.”
Part 7.

