“Fear softens when attention rests on what is waiting next.”
Saya tetap di sudut sembari memperhatikan Chloe dan Sophie merapikan mainan plastic dan kursi kecil mereka. Nama Chloe dipanggil dan kami pun bersiap menuju ruang praktik.
Sophie ikut berdiri lalu menoleh ke kakaknya. “You’ll be okay, right?” Chloe menarik napas sebentar dengan bahunya yang naik lalu turun pelan. “Yeah. But I’m a little scared.”
Ia tersenyum kecil. “I’ll go inside with you and after this, we can have tea. I think the water in the kettle will still be hot when you’re done.”
Tangannya menunjuk ke kettle mainan di dalam kotak plastic yang terletak di samping keranjang rotan berbentuk gajah.
Chloe menatap Sophie lalu mengangguk pelan. “Okay.” Kami bertiga lalu melangkah masuk. Bunyi langkah kami terdengar pelan di lantai yang dingin, seolah ruang itu ikut melunak dan memberi jalan.
Percakapan singkat tadi membuat hati saya tersenyum. Di langkah-langkah kecil itu, saya kembali diingatkan bahwa saat hidup terasa menegangkan, kita tidak perlu memikirkan semuanya sekaligus.
Kadang cukup dengan mengecilkan focus. Bukan tentang mencabut gigi, melainkan tentang secangkir tea hangat setelahnya. Satu hal kecil yang bisa dipegang agar langkah berikutnya terasa tidak terlalu menakutkan.
“One gentle thought can steady a shaky step.”
Part 4.

