0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Forgiveness isn’t just a gift you give to others, it’s a gift you give to yourself.”

 

Suasana pagi yang segar perlahan berganti dengan hiruk-pikuk saat kami kembali menuju apartement. Arsyl tampak lebih relax, meskipun pikirannya jelas penuh dengan pertanyaan yang mungkin tak akan pernah sepenuhnya terjawab.

 

“Arsyl,” memulai percakapan karena dorongan rasa penasaran yang sudah lama mengendap. “Why do you keep letting her off the hook? I mean, she’s clearly not being honest with you, and you know, she keeps…”

 

“Cheating?” dia memotong, nada suaranya ringan tapi ada luka yang tersembunyi di baliknya. “Iya, I know, Sarah.” Saya terdiam, memberi ruang baginya untuk  merangkai kata-kata.

 

“Terkadang kita memaafkan bukan karena mereka layak dimaafkan, tapi karena saya tidak mau kebencian itu terus menguasai hati. Saya tahu dia salah dan saya tahu dia tidak jujur.”

 

“Tapi kalau saya tidak memaafkan, saya akan terus hidup dalam kemarahan dan kekecewaan, dan itu berat, Sarah. I’m not gonna drag that around.” Kata-katanya mengendap dalam diam, memaksa saya untuk merenung.

 

Ada ketenangan yang aneh dalam cara dia berbicara, seolah-olah dia sudah menerima bahwa hidup tak selalu black and white, ada banyak abu-abu yang perlu diterima.

 

Angin pagi yang berhembus pelan membawa keheningan di antara kami, tapi bukan keheningan yang canggung. Itu adalah keheningan yang memberi ruang bagi Arsyl untuk jujur pada dirinya sendiri dan saya menghormati setiap langkahnya.

 

“Forgiveness is not for the other person, it’s for you. It’s the path to peace.”

Part 10.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!