0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

Lewis Gordon  yang lahir pada tahun 1962 adalah seorang filsuf Amerika yang bekerja di bidang filsafat Africa, filsafat ilmu manusia dan kehidupan, fenomenologi, filsafat eksistensi, teori sosial dan politik, pemikiran postkolonial, teori ras dan rasisme, filosofi pembebasan , estetika, filsafat pendidikan, dan filsafat agama.

 

Lewis adalah seorang filsuf Afro-Yahudi, pemikir politik, pendidik, dan musisi .Ia adalah pemain drum dan piano yang lahir di pulau Jamaika dan dibesarkan di Bronx, New York, Amerika Serikat. Semasa kecil Ia mengikuti pendidikan di Evander Child’s High School dan melanjutkan ke Lehman College setelah mendapatkan beasiswa dari Lehman Scholars Program (LSP) di mana Ia berhasil lulus dengan hasil baik dalam bidang filsafat dan ilmu politik sebagai anggota Phi Beta Kappa.

 

Mentor dan juga teman baiknya yaitu Gary Schwartz yang merupakan Direktur LSP adalah orang  yangmengajarkan Ia sastra Yunani dan kuno. Gordon kemudian mengajar studi sosial di Lehman High School, di mana ia mendirikan The Second Chance Program untuk In-school Truants dan kemudian mengambil gelar doktornya di Yale University. Di sana Ia bertemu dengan mentornya, Maurice Natanson seorang fenomenolog dan eksistensialis yang juga seorang anak dari teater Yiddish di Brooklyn, New York. Mentor dari Maurice adalah Alfred Schütz, seorang fenomenolog Yahudi dari ilmu sosial.

Gordon menganggap semua karyanya menjadi bagian dari tradisi humanis. Peran intelektual menurut pandangannya adalah untuk menantang batas-batas pengetahuan manusia. Baginya untuk mencapai sebagai manusia untuk kemanusiaan tetapi selalu gagal jika melakukaknnya sendirian.

 

Karya Gordon juga dicirikan sebagai bentuk sosiologi eksistensial. Dimensi sosiologis tulisan-tulisannya telah mendapat banyak perhatian dan bukunya yang paling baru, Living Thought in Trying Times pada tahun 2006, telah menggambarkannya sebagai sebuah karya yang tidak hanya dalam filsafat tetapi juga dalam pendidikan dan sosiologi dari formasi disiplin ilmu itu sendiri. Gordon, bagaimanapun, menggambarkan apa yang ia coba lakukan sebagai bagian dari teologis.

 

Gordon telah menghasilkan lebih dari 100 artikel, buku dan review, diantaranya adalah What Fanon Said: A Philosophical Introduction to his Life and Thought pada tahun 2015, A Companion to African American Studies bersama dengan istrinya, Jane Anna Gordon, Fanon and the Crisis of European Man: An Essay on Philosophy and the Human Sciences pada tahun 1995.

Gordon adalah pendiri  dari Pusat Studi Afro-Yahudi, satu-satunya pusat penelitian yang berfokus pada pengembangan dan penyediaan sumber informasi yang dapat diandalkan mengenai populasi keturunan Ibrani Afrika. Gordon menyatakan bahwa pada kenyataannya tidak ada yang namanya darah Yahudi murni. Orang Yahudi adalah ras campuran. Sudah begitulah sejak setidaknya saat kita meninggalkan Mesir sebagai campuran budaya Mesir dan Afrika.

Gordon juga mendirikan the Second Chance Program di Lehman High School di Bronx, New York.

 

Saat ini Gordon adalah Profesor Studi Filsafat dan Africana dengan afiliasi dalam Studi Yahudi dan Karibia, Latin dan Studi Amerika Latin, di Universitas Connecticut di Storrs, Amerika Serikat. Ia juga Profesor tamu untuk Europhilosophy di Toulouse University, Perancis dan Nelson Mandela Visiting Professor dalam Studi Politik dan Internasional di Universitas Rhodes di Afrika Selatan. Sepak terjang Lewis Gordon dalam menyuarakan apa yang menurutnya benar termasuk kutipannya yang menggugah “If we pass on an unsustainable environment to our children we have failed them.” Mari kita selalu merawat bumi ini untuk masa depan anak cucu kita di generasi yang akan datang.

 

lewis gordon lewis gordon lewis gordon lewis gordon lewis gordon lewis gordon

Bagikan ini: