0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Some gifts fade, but the love behind them stays bright like a pressed flower between pages.”

 

Sophie menghela napas perlahan, jemarinya masih menggenggam tas kecil yang kini terasa hampa. Saya menyentuh punggung tangannya dengan lembut. “Sophie sayang, was that pink pencil something really special for you?”

 

Ia mengangguk, kali ini dengan mata yang mulai berembun. “Itu dari Zus Chloe.  She bought it when she went to Hong Kong with Mama. She said, ‘This is for Sophie, because you love pink and so you can draw all the flowers you like.’”

 

Saya terdiam sejenak. Di tengah keramaian ruang tunggu dan gemuruh AC yang terus berdengung, saya bisa merasakan berat yang Sophie simpan di dadanya. Bukan semata kehilangan sebuah benda, tapi kehilangan yang membawa serta jejak cinta Chloe di dalamnya.

Di mata anak-anak, cinta sering hadir dalam wujud paling sederhana seperti sebatang pensil, sehelai pita, atau secarik kertas. Namun bukan bendanya yang mereka genggam erat, melainkan makna yang tersembunyi di baliknya yaitu rasa bahwa mereka dilihat dan dicintai.

 

“Sophie sayang,” bisik saya, “meskipun pencil itu hilang, cinta dari Zus Chloe tidak ikut hilang.” Sophie menoleh pelan. Wajahnya yang semula mengerut mulai mencair. Masih ada sisa sedih di matanya, tapi juga cahaya lembut dari pemahaman yang perlahan tumbuh.

 

Lalu, dengan suara kecil nyaris seperti gumam, ia berkata, “Maybe when I see Zus Chloe, I’ll say, ‘The pink pencil is gone, but I still feel happy when I think about it. Like the pencil is still saying hi from my drawings.”

 

Saya menatapnya dalam diam dan hati terasa hangat oleh caranya merawat kenangan dengan begitu halus. Dalam kehilangan kecil itu, terlihat dengan jelas bahwa cinta sejati tidak pernah diikat oleh benda yang bisa hilang, tapi disimpan dalam ingatan yang perlahan bersemayam di dalam dada.

 

“Real love is never tied to what we keep, but to what we remember.”

Part 36.

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!